Sunday, September 6, 2009

Jenis - Jenis Anemone

Secara umum Anemone identik dengan ikan hias laut jenis clownfish, namun tidak semua ikan jenis clown menyukai jenis anemone yang sama. Beberapa jenis anemone yang kita kenal adalah :

• Anemone Clown, adalah jenis anemone yang biasanya hanya disukai oleh jenis percula clownfish (nemo). Anemone jenis ini tergolong jenis anemone yang sangat aktif berpindah-pindah tempat. Kadang tidak begitu disukai oleh beberapa akuaris karena anemone jenis ini tidak bisa tetap diam pada tempat yang kita kehendaki. Dia bisa kadang menempel di batu karang manapun yang dia suka, malah kadang sering menempel pada koral lainnya ataupun yang lebih menjengkelkan suka menempel pada kaca akuarium sehingga pemandangan menjadi terhalang. Namun ukurannya yang lebih besar daripada jenis anemone yang lain dan harga yang lebih murah akan sangat bermanfaat untuk menutup daerah kosong di akuarium dan keindahannya yang melambai-lambai terkena arus.


• Anemone Pasir, adalah jenis anemone yang biasanya disukai oleh jenis clownfish giro pasir (two-banded clownfish). Anemone jenis ini lebih pasif sehingga pada waktu kita meletakkannya di tempat yang kita kehendaki, anemone ini akan tetap disana kecuali merasa sering terganggu. Namun walaupun berpindah, anemone pasir tidak akan terlalu jauh dari tempat awalnya.

• Anemone Jagung, adalah anemone yang ujung-ujungnya berbentuk seperti jagung. Anemone jenis ini biasanya sangat disukai oleh clownfish jenis balong (maroon clownfish). Anemone jenis ini juga tidak begitu aktif layaknya anemone clown. Dia akan tetap berada tak jauh dari tempat pertama kali kita letakkan, hanya ‘pantatnya’ saja yang akan menempel pada bagian karang yang lebih dalam.

• Anemone Pantat Merah, adalah jenis anemone yang disukai oleh jenis skunk clownfish (giro pellet). Namun anemone jenis ini disukai pula oleh jenis ikan clownfish lainnya. Anemone jenis ini juga anemone yang pasif, hanya saja ‘pantatnya’ akan berusaha menempel sampai pada dasar akuarium.


Read More.. Read More..

Tuesday, August 25, 2009

Anemone, Mudah Merawatnya

Melihat keindahan akuarium air laut mempunyai keasikan tersendiri. Segala kepenatan dan stress akibat aktivitas di luar rumah dapat terobati setelah pulang kerumah dan memandang akuarium air laut yang bersih dan indah dengan berbagai kehidupan di dalamnya.

Akuarium yang indah harus diisi oleh berbagai batu karang (live rock), koral, invertebrata dan ikan hias yang cukup. Akuarium yang terkesan kosong akan berkurang keindahannya, ikan hias saja tidak terasa cukup untuk memunculkan kesan indah. Untuk menghias akuarium dengan koral-koral yang lumayan banyak memerlukan biaya yang tidak sedikit, tergantung besarnya akuarium yang kita punya. Apalagi harga koral maupun tumbuh-tumbuhan laut lainnya saat ini relative lebih mahal dibanding beberapa waktu lalu.


Kendala lainnya adalah bagi akuaris air laut yang tidak memakai chiller untuk mendinginkan air, sehingga koral dan tanaman laut lainnya tidak dapat mengembang semaksimal mungkin karena koral-koral tersebut memerlukan suhu yang cukup dingin sekitar 25-26 derajat celcius untuk mekar. Bahkan untuk jenis koral tertentu, suhu sekitar 29-30 celcius akan membuatnya rontok sedikit demi sedikit dan akhirnya mati.

Salah satu cara untuk menyiasati agar akuarium yang tidak menggunakan chiller sebagai pelengkap adalah dengan memelihara anemone yang lebih mudah merawatnya. Anemone tidak memerlukan suhu air yang cukup dingin untuk membuatnya mengembang secara maksimal. Suhu sekitar 29-30 derajat celcius dapat membuatnya hidup dan mengembang dengan sangat maksimal. Keuntungan lain dari memelihara anemone adalah harganya yang relative murah sekitar Rp. 20.000 – 35.000. Dan kalau anemone sedang mengembang secara maksimal akan tampak sangat besar memenuhi daerah akuarium yang terkesan kosong. Bila terkena arus akan melambai-lambai dengan indahnya.

Ikan jenis clown pun akan dengan riangnya bermain-main di dalam anemone dan sekitarnya sehingga menambah keindahan dan keunikan tersendiri di dalam akuarium. Ikan-ikan jenis clown akan saling berkejaran dan seakan-akan saling bercanda di sekitar anemone dengan lucunya.

Dan yang terpenting adalah, merawat anemone sangatlah mudah. Kita dapat memberikan pakan berupa rebon beku ataupun udang kecil yang dimasukkan langsung ke dalam mulutnya, yang terdapat ditengah-tengah anemone tersebut. Waktu yang tepat untuk memberikan pakan adalah malam hari setelah lampu akuarium telah padam dan sebagian ikan-ikan telah tidur, karena bila tidak pakan-pakan tersebut akan direbut oleh ikan-ikan yang lain sebelum dimakan secara sempurna oleh anemone.

Read More.. Read More..

Saturday, August 8, 2009

Menangkap Ikan Pengacau Di Akuarium

Kadang secara tidak disengaja atau karena ketidaktahuan, beberapa spesies ikan yang tidak cocok menjadi penghuni akuarium. Sebagian spesies ikan akan berubah perilaku menjadi agresif seiring perubahannya menjadi dewasa. Ikan seperti ini akan menjadi ‘pengacau’ dan membuat kehidupan di dalam akuarium tidak nyaman.

Ikan yang berpotensi menjadi pengacau perlu dikeluarkan atau ditangkap dari akuarium tanpa merusak susunan koral, karang-karang dan membuat stress penghuni lain. Namun hal itu bukanlah pekerjaan yang mudah, berikut beberapa kiat yang dapat dicoba :

  1. Matikan lampu akuarium selama beberapa jam hingga ikan-ikan mulai tidur. Padamkan lampu ruangan atau cahaya lain sehingga ruangan tampak gelap gulita. Gunakan senter besar untuk mengarahkan cahaya langsung ke mata ikan yang akan ditangkap. Untuk beberapa saat, penglihatan ikan akan terganggu dan tidak bergerak. Itulah saat yang tepat untuk menjeratnya dengan jaring kecil.
  2. Pipa paralon berdiameter 1 inci dengan panjang 30 cm dapat dipakai sebagai perangkap. Lebih ideal lagi tabung transparan untuk mencegah ikan takut. Diameter pipa dan tabung disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Tutup salah satu mulut pipa, lalu buat beberapa lubang kecil di sepanjang tabung. Tujuannya agar tabung dapat tenggelam ke dasar akuarium. Ikat mulut tabung yang tidak tertutup dengan menggunakan benang nilon atau kenur yang tersamar dari ikan. Satu ujung benang diulurkan ke luar akuarium. Isi perangkap dengan pakan seperti potongan udang, lalu tenggelamkan horizontal ke dasar. Amati dan tunggu dengan sabar sampai ikan masuk perangkap. Bila ikan sudah masuk perangkap, tarik ujung benang hingga posisi tabung menjadi vertical. Lubang-lubang disisi tabung berguna agar perangkap bisa ditarik keluar akuarium dengan cepat sebelum ikan kabur.
  3. Cara lain, tangkap ikan saat pemberian pakan. Biarkan ikan tersebut kelaparan. Dengan cara ini, ikan akan lebih agresif menjemput pakan hingga ke permukaan saat diberi pakan. Berikan pakan sedikit demi sedikit sambil disiapkan jaring ikan di tangan. Begitu ikan yang diincar naik ke permukaan, segera ditangkap.
  4. Bila 3 cara diatas tidak berhasil, gunakan wadah transparan yang berlubang-lubang seperti pada topik cara mendamaikan ikan. Gantung wadah transparan tersebut dengan benang nilon di kedua ujung kiri dan kanan. Biarkan selama beberapa hari di akuarium agar ikan-ikan tidak menganggap wadah tersebut sebagai bahaya. Setelah beberapa hari, turunkan wadah transparan sekitar di tengah akuarium, beri pakan seperti biasa namun kali ini diatas wadah transparan tersebut. Pada saat ikan pengacau sedang menjemput pakan diatas wadah tariklah wadah dengan agak cepat agar ikan tidak sempat kabur. Lebih baik sebelum melakukan penangkapan, biarkan ikan pengacau lapar untuk beberapa hari sehingga rasa lapar mengurangi kewaspadaannya terhadap bahaya.

    Selamat mencoba.

Read More.. Read More..

Monday, August 3, 2009

Memilih Dan Memberi Pakan

Semua makhluk hidup butuh makan agar dapat bertahan hidup, begitu pula dengan spesies-spesies yang dipelihara di lingkungan kecil seperti akuarium. Namun, memilih pakan yang tepat dan cara pemberiannya perlu dicermati.

Pemberian pakan yang berlebihan akan berdampak buruk bagi kualitas air. Spesies-spesies terutama ikan, akan selalu tampak lapar dan tidak mengenal kenyang meskipun sudah diberi pakan. Selera makan yang luar biasa tersebut jangan dituruti untuk menghindari bioload memburuk dengan cepat.

Jangan pernah langsung menuang sekaligus pakan ikan ke dalam akuarium, terutama pakan beku. Ikan tidak mampu langsung menghabiskan pakan yang mengambang atau melayang di air. Sebagian pakan tersebut akan langsung tenggelam di dasar akuarium, sedangkan sebagian lainnya tersangkut di celah-celah karang dan secara cepat akan memperburuk kualitas air. Oleh karena itu, pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit untuk menghindari sisa pakan tenggelam ke dasar akuarium. Idealnya, pakan yang diberikan harus habis dikonsumsi oleh ikan dalam hitungan menit (3-5 menit). Bila lebih lama, akan terjadi overfeed alias kelebihan pakan. Pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari.


Khusus koral, beberapa spesies perlu ditangani berbeda dalam pemberian pakan. Maklum, karena beberapa penyebab seperti arus air atau pakan lebih dahulu disantap ikan sehingga tidak sampai disantap koral maka perlu dilakukan direct feeding atau penyuapan langsung ke mulut koral. Pemberian dapat menggunakan penjepit langsung ke mulut koral. Pemberian dapat menggunakan penjepit untuk pakan berbentuk potongan kecil seperti udang segar. Cara lain adalah menggunakan alat suntik yang jarumnya sudah dilepas. Cara tersebut dapat diterapkan pada pakan sejenis udang rebon.

Koral-koral yang perlu disuapi seperti berbagai spesies anemone, cerianthus, karang daging, kolang-kaling, karang melati, jamur berukuran besar (elepant ear) dan polip matahari. Meskipun umumnya memiliki zooxanthellae, koral-koral tersebut tetap perlu diberi pakan agar dapat bertahan hidup.

Intensitas pemberian pakan dua kali seminggu sampai dengan dua minggu sekali berupa pemberian potongan kecil udang dan kerang kupas. Besar potongan disesuaikan dengan ukuran spesies. Pemberian pakan idealnya dilakukan saat polip-polip berkembang maksimal. Koral umumnya menelan pakan sangat lambat, kecuali anemone. Oleh karena itu, ikan dan invertebrata seperti udang dan kepiting akan merebut pakan koral. Sangat dianjurkan pakan diberikan saat lampu mati dan sebagian besar ikan sudah beristirahat. Di malam hari, sebagian koral seperti kolang-kaling, karang daging, polip matahari akan berubah bentuk dan mengeluarkan tentakel-tentakel kecil untuk menangkap pakan yang terbawa arus. Saat seperti ini cocok dilakukan direct feeding.

Pakan dapat diberikan siang hari, tetapi ada kiat yang perlu diketahui agar pakan koral tidak disantap ikan. Sebelum pakan tertelan sepenuhnya, tutupi koral dengan jaring kecil. Bila perlu, koral diberi pakan satu per satu sambil dijaga dari aksi pencurian sampai pakan habis tertelan.

Memberikan pakan memang pekerjaan yang melelahkan dan membuang waktu. Akan tetapi, harus diingat bahwa bila dedikasi dan kecintaan terhadap spesies cukup tinggi, justru saat pemberian makan menghasilkan pemandangan luar biasa dan menakjubkan. Lantas, pakan apa yang tepat untuk spesies ikan? Untuk ikan hias, berikan udang rebon dalam bentuk beku atau hidup. Pakan berupa butiran (granule) atau pellet khusus ikan laut yang nutrisinya lengkap juga sangat bagus karena terdapat kandungan berbagai macam vitamin untuk kesehatan dan daya tahan ikan terhadap penyakit.

Setiap jenis ikan memiliki pakan pokok berbeda. Khusus ikan dari spesies botana (tangs/surgeon fishes) yang bersifat vegetarian, pakan yang diberikan berupa microalgae seperti rumput asam dan anggur laut hijau dan merah. Ataupun bisa memberikan sayur selada air yang biasanya kita makan sebagai lalap. Meski demikian, ikan jenis ini juga bisa cepat beradaptasi dan dapat menyantap udang rebon ataupun pellet.

Pada spesies kima (tridacna clams) dan berbagai spesies yang memanfaatkan filter feeder seperti cacing kipas, akar bahar, polip cengkeh, seroja, pagoda dan payungan, perlu diberikan menu tambahan berupa plankton cair.

Read More.. Read More..

Monday, July 27, 2009

Trik Mendamaikan Ikan Baru Dengan Penghuni Lama

Kadang walaupun kita telah melakukan aklimatisasi/penyesuaian yang cukup bagi ikan baru sebelum dimasukkan ke dalam akuarium, ikan-ikan penghuni lama masih saja mengejar-ngejar penghuni baru tanpa henti. Hal ini akan membuat ikan baru akan bertambah stress karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi. Hal ini sering terjadi apabila spesies baru yang kita beli sama jenis dengan spesies yang sudah ada di akuarium seperti spesies clownfish misalnya antara maroon clownfish (balong) dengan giro pasir.

Untuk menghindari keadaan demikian, ada satu trik yang bisa digunakan agar ikan baru yang kita beli bisa ‘berdamai’ dengan ikan penghuni lama.
Caranya adalah :

  • Lakukan aklimatisasi/penyesuaian spesies baru terhadap suhu air di akuarium seperti biasanya
  • Siapkan suatu wadah seperti pemisah ikan yang warnanya transparan seperti yang banyak dijual di toko-toko peralatan akuarium

  • Ikat wadah tersebut agar tidak terbawa kesana kemari oleh arus yang ada di dalam akuarium
  • Lepaskan spesies ikan baru ke dalam wadah transparan tersebut
  • Biarkan selama beberapa minggu atau bahkan selama berbulan-bulan tergantung keadaan, hal ini bisa dilihat dari kelakuan penghuni lama apakah masih berusaha mendekati spesies baru dan seperti ingin menyerangnya
  • Beri pakan ikan penghuni baru pada saat memberikan pakan pada penghuni di akuarium, sehingga antara penghuni baru dan lama terjalin suatu keadaan yang sama
  • Lepaskan spesies baru dari wadah transparan ke dalam akuarium bila telah dianggap ‘berdamai’, hal ini bisa dilihat dari penghuni lama yang awal mulanya seperti ingin menyerang telah acuh tak acuh terhadap spesies baru yang berada di wadah tersebut
  • Biarkan wadah transparan di tempat semula sampai Anda benar-benar yakin ikan telah ‘berdamai’
  • Usahakan agar wadah transparan tersebut diletakkan miring (bukan menghadap keatas seperti pada waktu spesies baru masih di dalam wadah). Hal ini berfungsi apabila penghuni lama masih berusaha menyerang ikan baru, maka ikan baru akan melindungi dirinya dengan masuk kembali kedalam wadah, dan biasanya penghuni lama tidak akan berani menyerang sampai mendekati wadah transparan tersebut sehingga ikan baru akan aman selama berada di dalam wadah tersebut.

Read More.. Read More..

Friday, July 24, 2009

AKLIMATISASI SPESIES BARU

Salah satu faktor penyebab kematian spesies yang baru dimasukkan ke dalam akuarium adalah tidak dilakukan aklimatisasi/penyesuaian terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa spesies yang dibeli sudah stres sejak dipindahkan dari akuarium penjual dan selama di kantong plastik untuk perjalanan menuju rumah. Keadaan akan semakin parah bila spesies tersebut langsung dimasukkan ke akuarium segera setelah tiba dirumah.

Pernapasan spesies selama di dalam kantong plastik akan meningkatkan kadar karbondioksida sehingga pH air dalam kantong drop dengan signifikan. Pada saat yang sama, kadar amoniak juga akan naik. Meskipun demikian, spesies-spesies tersebut akan tetap bertahan hidup asalkan tidak terlalu lama berada dalam kondisi buruk.

Saat akan dimasukkan ke akuarium, spesies yang baru akan mengalami shock kembali saat mendapatkan kadar pH air yang lebih tinggi di akuarium. Oleh karena itu, perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu agar perubahan kondisi air tersebut tidak berdampak buruk. Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan :

  1. Redupkan lampu diruangan saat membuka kantong plastik berisi spesieskarena cahaya terang secara tiba-tiba akan membuat spesies terutama ikan menjadi stress
  2. Padamkan lampu akuarium
  3. Apungkan kantong plastik berisi spesies di sump atau di akuarium selama 10-15 menit tanpa membukanya. Tujuannya untuk menyamakan suhu air di dalam kantong plastik dengan suhu air akuarium
  4. Tambahkan air akuarium ke dalam kantong setinggi 2-3 cm setiap 5-10 menit selama 20-30 menit sampai kantong penuh
  5. Lepaskan spesies baru ke akuarium dengan menggunakan jaring kecil, jangan dengan tangan. Perlu diingat, air di dalam kantong tidak boleh ikut dimasukkan ke akuarium
  6. Lampu akuarium dibiarkan padam selama beberapa jam agar ikan baru tidak stress akibat diserang oleh penghuni lama. Berikan waktu bagi ikan baru untuk beradaptasi dan mempelajari lingkungan barunya tanpa dikejar-kejar oleh penghuni lama
  7. Beberapa jenis koral akan mengeluarkan lendir selama transportasi. Sebelum dimasukkan ke akuarium, pegang kerangkanya dan guncang-guncang sampai semua lendir dan kotoran terlepas.

    Read More.. Read More..

    Thursday, July 23, 2009

    Tips Memilih Dan Membeli Spesies

    Memilih dan membeli ikan hias, koral dan invertebrata sering dianggap sepele. Padahal sesungguhnya salah satu factor utama agar spesies yang dibeli mampun bertahan hidup di akuarium tergantung pada cara memilih spesies yang tepat dan sehat sebelum dibawa pulang ke rumah.

    Spesies ikan hias yang tampak stress di akuarium penjual perlu dihindari. Perhatikan juga apakah ikan hias terjangkit penyakit seperti whitespot atau tubuh terdapat luka. Atau perhatikan apakah ikan tersebut tampak lesu yang menandakan kurang sehat atau sangat lincah. Selain itu, juga perlu ditanyakan lamanya ikan tersebut berada di akuarium penjual. Hal ini perlu dilakukan karena sebagian nelayan ikan hias menggunakan racun untuk menangkapnya di laut bebas. Racun tersebut memang tidak langsung membunuh ikan-ikan hingga sampai di tangan penjual. Namun bagaimanapun ikan-ikan tangkapan dengan racun akan menjadi tidak sehat dan kemungkinan tidak akan berumur panjang. Bila ikan pilihan sudah disiapkan, sebaiknya Anda meminta penjualnya untuk mengisinya dalam kantong plastik yang diberi oksigen baru sebelum dibawa pulang.


    Khusus koral, Anda perlu mengamati kecerahan warna atau sudah mulai kehilangan zooxanthellae. Kebanyakan spesies koral LPS (Large Polyps Schleractinia) seperti karang daging dan kolang-kaling rentan terluka atau cacaat bila tubuhnya (bukan kerangkanya) disentuh langsung. Oleh karena itu, diingatkan kepada penjual untuk berhati-hati saat koral yang sudah dipilih akan dipindahakan ke dalam kantong plastic agar tidak melukainya apalagi bila koral diambil dengan penjepit. Lebih baik memilih koral yang telah mengembang di akuarium penjual daripada yang masih kuncup karena koral tersebut berarti mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga bila di letakkan di akuarium kita nanti akan lebih cepat mengembang.

    Beberapa koral tertentu seperti spesies sponge, akar bahar (gorgonian), dan kima (tridacna clams) tidak akan bertahan hidup bila berada terlalu lama di luar air. Lebih dari 30 detik saja akan berdampak buruk bagi koral. Oleh karena itu, pastikan bahwa koral yang dipilih segera dimasukkan ke dalam kantong plastic setelah diangkat dari akuarium penjual.

    Read More.. Read More..

    Tuesday, July 21, 2009

    Memilih Dan Merawat Karang Hidup

    Karang hidup mengandung berbagai jenis kehidupan di dalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil. Oleh karena itu, karang hidup perlu dicermati pada saat pemilihan, pengangkutan, perlakuan setiba di rumah dan perawatan di akuarium.

    Saat dibeli, karang hidup dipilih yang masih penuh dengan coralline algae yang warnyanya cerah. Idealnya, karang hidup bercela banyak atau berpori-pori. Bentuk dan besarnya dapat disesuaikan dengan ukuran akuarium.

    Saat diangkut, karang hidup harus tetap terendam air laut tetapi tentunya tidak bisa dibawa dengan kantong plastic. Ini disebabkan terdapat bagian karang yang tajam sehingga dapat membuat kantong bocor. Cara lain membawa karang hidup adalah memakai Styrofoam atau wadah plastic tertutup seperti ember yang sebelumnya sudah diisi air laut. Air laut tidak perlu penuh, cukup karang hidup sudah terendam seluruhnya.

    Bila terpaksa membawa tanpa terendam air laut, maka gunakan kertas koran yang sudah dibasahi air laut untuk membungkus karang hidup tersebut, dan segeralah pulang kerumah agar karang hidup tidak terlalu lama tanpa terendam air karena sebagian organisme yang hidup di karang tersebut akan mati dan nantinya akan mengurangi kualitas air di akuarium bila karang tersebut dimasukkan ke dalam akuarium.

    Amati dengan cermat kehadiran hama aiptasia anemones. Hama yang dikenal sebagai glass anemone tersebut memiliki tentakel beracun yang sanggup membunuh koral dan kima. Bentuknya seperti anemone, tetapi berukuran kecil dan berkembang biak dengan sangat cepat.

    Bagi kebanyakan akuaris pemula, karang-karang hidup di akuarium cepat atau lambat akan tertutupi oleh ganggang hijau dan coklat kemerahan. Hal ini pertanda bahwa kualitas air akuarium buruk atau terdapat penumpukan kotoran ikan dan sisa-sisa pakan diatas karang. Bila hal tersebut benar-benar terjadi, karang-karang hidup perlu dibersihkan dengan sikat halus seperti sikat gigi hingga microalgae tampak bersih. Cara ini dilakukan saat dilakukan penggantian air agar microalgae yang terlepas dapat langsung disedot keluar. Celah-celah karang hidup juga perlu dibersihkan dengan cara disedot saat penggantian air.

    Read More.. Read More..

    Sunday, July 19, 2009

    Tema Akuarium


    Setelah semua kebutuhan dasar sebuah akuarium air laut terpenuhi, langkah yang perlu diperhatikan para akuaris pemula adalah menentukan jenis ikan, koral dan invertebrata yang tepat. Penentuan jenis ikan, koral dan invertebrata harus sesuai dengan asas kesesuaian (compatibility).

    Akuarium air laut tidak boleh asal diisi dengan segala spesies yang tersedia di pasaran. Pasalnya, tidak semua spesies berasal dari habitat serupa, bahkan meskipun berasal dari habitat yang sama, tetap saja masing-masing spesies diambil dari kedalaman berbeda sehingga dibutuhkan lokasi berbeda di akuarium. Selain itu, tidak semua spesies ikan hias, koral dan invertebrata cocok digabungkan dalam sebuah akuarium karena ada yang bersifat predator. Misalnya, semua spesies kepe-kepe dan sebagian angel umumnya sebagai predator bagi koral ataupun spesies kerapu sebagai pemangsa ikan-ikan ukuran kecil.


    Sejumlah spesies ikan hias pun tidak boleh sembarangan digabungkan meskipun berasal dari spesies yang sama karena memiliki perilaku mempertahankan daerah kekuasaan. Misalnya spesies bi-color, royal false gramma atau dottyback akan bertarung sampai mati demi mempertahankan wilayahnya. Sementara balong (maroon clownfish) akan saling menyerang demi anemon. Perlu diingat bahwa ekosistem baru yang disediakan bagi spesies-spesies tersebut merupakan miniatur, bukan di habitat aslinya di laut luas.

    Beberapa spesies ikan pun tidak dapat digabungkan dengan koral karena di habitat alaminya koral-koral tertentu merupakan sumber pakan, misalnya spesies trigger dan kepe-kepe. Dapat dibayangkan, satu saja jenis ikan atau invertebrata predator kotal yang terdapat di dalam akuarium akan membuat stress kehidupan di akuarium. Untuk menangkap ikan predator di dalam akuarium yang penuh karang dan koral bukan pekerjaan mudah.

    Kemudian, sebagian spesies koral diketahui memiliki tentakel beracun bagi koral lain sehingga tidak boleh asal ditumpuk berdesakan. Oleh karena itu, penyusunan dan penempatan koral di akuarium perlu penanganan khusus. Perlu diingat, tidak semua spesies (ikan, koral dan invertebrata) yang dijual dipasaran mampu bertahan hidup pada kondisi artificial di akuarium, meskipun dengan kualitas air yang baik dan ditangani oleh akuaris berpengalaman. Misalnya anemon piring (fungia) sudah dikenal sebagai spesies yang tidak mampu bertahan lama di akuarium, sedangkan acropora dan goniopora termasuk jenis yang sulit dirawat.

    Oleh karena itu, para akuaris pemula perlu terlebih dahulu mempelajari kesesuaian berbagai spesies ikan hias, koral dan invertebrata sebelum memutuskan untuk membelinya. Akuaris pemula perlu menggali informasi sebanyak mungkin dari pemilik toko akuarium dan belajar dari akuaris yang sudah berpengalaman. Kemauan untuk bertanya dan berkonsultasi dengan akuaris berpengalaman mutlak menjadi suatu kebutuhan.

    Dikalangan akuaris air laut dikenal istilah community tank atau theme tank, yaitu akuarium yang diperuntukkan bagi spesies yang berasal dari habitat yang sama, membutuhkan perlakuan yang sama dan kualitas air yang sama. Akuarium tematik ini memudahkan pemeliharaan sekaligus mempertahankan keberlangsungan hidup spesies selama mungkin.

    Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, selain menghemat pengeluaran biaya yang akan terbuang sia-sia, kita juga ikut melestarikan alam laut kita dengan tidak memelihara spesies-spesies ikan, koral dan invertebrata yang tidak mungkin bisa hidup dalam sebuah miniatur akuarium laut yang luasnya sangat terbatas.

    Read More.. Read More..

    Friday, July 17, 2009

    Simulasi Arus Dan Ombak

    Bila memandang permukaan laut, yang pertama kali terlihat adalah deburan ombak. Namun sebetulnya dibawah permukaan air laut tersebut terdapat arus horizontal (current) dan arus vertikal (tides). Arus tersebut tidak konstan, tetapi terus berubah sepanjang waktu. Bahkan sesekali terjadi pertemuan arus (turbulance). Kondisi penuh dinamika ini terutama terjadi pada laut dangkal, habitat ikan hias, koral atau terumbu karang.

    Bila Anda pernah menonton tayangan tentang dunia koral atau pernah menyelam untuk menikmati keindahan koral, pastilah Anda akan tahu bahwa koral-koral tersebut seperti menari mengikuti irama arus dan ombak. Sesekali muncul arus dari kedalaman yang membawa naik berbagai nutrisi dan mineral sebagai sumber pakan.


    Bagi akuaris air laut, kondisi seperti ini sedapat mungkin disimulasikan karena merupakan faktor penting bagi kehidupan koral. Selain untuk membawa pakan (plankton) dan mineral, keberadaan arus menjadi sangat penting bagi koral dan ikan. Koral dan ikan akan memanfaatkan arus untuk membersihkan tubuh dari kotoran. Arus pun bermanfaat pada pertukaran gas oksigen dan karbondioksida.

    Kurangnya arus di akuarium akan berdampak negatif pada kualitas air. Bila di dalam akuarium terdapat area yang sangat rendah dan tidak terkena arus, akan tercipta daerah deadspot. Diarea deadspot tersebut sangat minim kadar oksigennya. Area deadspot akan memicu berkembangnya populasi bakteri anaerob secara tidak seimbang. Selain itu, deadspot akan menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) yang beracun bagi kehidupan di akuarium. Area deadspot umumnya berada di balik karang di belakang akuarium dan di celah karang yang tidak terkena arus.

    Arus yang tidak sesuai akan membuat beberapa jenis koral seperti batu hio, babut, polip matahari, pagoda akan sulit berukuran maksimal. Oleh karena itu, simulasi arus dan ombak di akuarium air laut merupakan faktor penting.

    Kini, sudah ada alat berupa wafemaker dan surge device yang menciptakan arus dan ombak buatan. Namun, alat tersebut sangat langka di Indonesia. Kalaupun ada harganya masih mahal. Oleh karena itu, kita bisa mempergunakan powerhead (pompa) berkapasitas kecil antara 1.000 - 15.000 liter/jam. Powerhead di tempatkan sedemikian rupa agar arus yang tercipta menjangkau hingga ke sudut-sudut akuarium. Bila belum cukup, tambahkan lagi sebuah powerhead yang di pasang di sudut lain hingga dapat menimbulkan efek arus tabrakan. Agar simulasi arus dinamis, bisa menggunakan timer yang banyak tersedia di toko-toko alat listrik. Timer diatur untuk mematihidupkan powerhead secara acak, sesekali on atau off secara bersamaan.

    Perlu diperhatikan, beberapa jenis koral seperti spesies jamur tidak menyukai arus yang terlalu kencang. Untuk itu, penyusunan koral di akuarium tidak boleh asal-asalan. Jangan sampai koral yang tidak menyukai arus tersebut malahan terkena arus berlebihan, begitu pula sebaliknya.
    Read More.. Read More..