Sunday, September 6, 2009

Jenis - Jenis Anemone

Secara umum Anemone identik dengan ikan hias laut jenis clownfish, namun tidak semua ikan jenis clown menyukai jenis anemone yang sama. Beberapa jenis anemone yang kita kenal adalah :

• Anemone Clown, adalah jenis anemone yang biasanya hanya disukai oleh jenis percula clownfish (nemo). Anemone jenis ini tergolong jenis anemone yang sangat aktif berpindah-pindah tempat. Kadang tidak begitu disukai oleh beberapa akuaris karena anemone jenis ini tidak bisa tetap diam pada tempat yang kita kehendaki. Dia bisa kadang menempel di batu karang manapun yang dia suka, malah kadang sering menempel pada koral lainnya ataupun yang lebih menjengkelkan suka menempel pada kaca akuarium sehingga pemandangan menjadi terhalang. Namun ukurannya yang lebih besar daripada jenis anemone yang lain dan harga yang lebih murah akan sangat bermanfaat untuk menutup daerah kosong di akuarium dan keindahannya yang melambai-lambai terkena arus.


• Anemone Pasir, adalah jenis anemone yang biasanya disukai oleh jenis clownfish giro pasir (two-banded clownfish). Anemone jenis ini lebih pasif sehingga pada waktu kita meletakkannya di tempat yang kita kehendaki, anemone ini akan tetap disana kecuali merasa sering terganggu. Namun walaupun berpindah, anemone pasir tidak akan terlalu jauh dari tempat awalnya.

• Anemone Jagung, adalah anemone yang ujung-ujungnya berbentuk seperti jagung. Anemone jenis ini biasanya sangat disukai oleh clownfish jenis balong (maroon clownfish). Anemone jenis ini juga tidak begitu aktif layaknya anemone clown. Dia akan tetap berada tak jauh dari tempat pertama kali kita letakkan, hanya ‘pantatnya’ saja yang akan menempel pada bagian karang yang lebih dalam.

• Anemone Pantat Merah, adalah jenis anemone yang disukai oleh jenis skunk clownfish (giro pellet). Namun anemone jenis ini disukai pula oleh jenis ikan clownfish lainnya. Anemone jenis ini juga anemone yang pasif, hanya saja ‘pantatnya’ akan berusaha menempel sampai pada dasar akuarium.


Read More.. Read More..

Tuesday, August 25, 2009

Anemone, Mudah Merawatnya

Melihat keindahan akuarium air laut mempunyai keasikan tersendiri. Segala kepenatan dan stress akibat aktivitas di luar rumah dapat terobati setelah pulang kerumah dan memandang akuarium air laut yang bersih dan indah dengan berbagai kehidupan di dalamnya.

Akuarium yang indah harus diisi oleh berbagai batu karang (live rock), koral, invertebrata dan ikan hias yang cukup. Akuarium yang terkesan kosong akan berkurang keindahannya, ikan hias saja tidak terasa cukup untuk memunculkan kesan indah. Untuk menghias akuarium dengan koral-koral yang lumayan banyak memerlukan biaya yang tidak sedikit, tergantung besarnya akuarium yang kita punya. Apalagi harga koral maupun tumbuh-tumbuhan laut lainnya saat ini relative lebih mahal dibanding beberapa waktu lalu.


Kendala lainnya adalah bagi akuaris air laut yang tidak memakai chiller untuk mendinginkan air, sehingga koral dan tanaman laut lainnya tidak dapat mengembang semaksimal mungkin karena koral-koral tersebut memerlukan suhu yang cukup dingin sekitar 25-26 derajat celcius untuk mekar. Bahkan untuk jenis koral tertentu, suhu sekitar 29-30 celcius akan membuatnya rontok sedikit demi sedikit dan akhirnya mati.

Salah satu cara untuk menyiasati agar akuarium yang tidak menggunakan chiller sebagai pelengkap adalah dengan memelihara anemone yang lebih mudah merawatnya. Anemone tidak memerlukan suhu air yang cukup dingin untuk membuatnya mengembang secara maksimal. Suhu sekitar 29-30 derajat celcius dapat membuatnya hidup dan mengembang dengan sangat maksimal. Keuntungan lain dari memelihara anemone adalah harganya yang relative murah sekitar Rp. 20.000 – 35.000. Dan kalau anemone sedang mengembang secara maksimal akan tampak sangat besar memenuhi daerah akuarium yang terkesan kosong. Bila terkena arus akan melambai-lambai dengan indahnya.

Ikan jenis clown pun akan dengan riangnya bermain-main di dalam anemone dan sekitarnya sehingga menambah keindahan dan keunikan tersendiri di dalam akuarium. Ikan-ikan jenis clown akan saling berkejaran dan seakan-akan saling bercanda di sekitar anemone dengan lucunya.

Dan yang terpenting adalah, merawat anemone sangatlah mudah. Kita dapat memberikan pakan berupa rebon beku ataupun udang kecil yang dimasukkan langsung ke dalam mulutnya, yang terdapat ditengah-tengah anemone tersebut. Waktu yang tepat untuk memberikan pakan adalah malam hari setelah lampu akuarium telah padam dan sebagian ikan-ikan telah tidur, karena bila tidak pakan-pakan tersebut akan direbut oleh ikan-ikan yang lain sebelum dimakan secara sempurna oleh anemone.

Read More.. Read More..

Saturday, August 8, 2009

Menangkap Ikan Pengacau Di Akuarium

Kadang secara tidak disengaja atau karena ketidaktahuan, beberapa spesies ikan yang tidak cocok menjadi penghuni akuarium. Sebagian spesies ikan akan berubah perilaku menjadi agresif seiring perubahannya menjadi dewasa. Ikan seperti ini akan menjadi ‘pengacau’ dan membuat kehidupan di dalam akuarium tidak nyaman.

Ikan yang berpotensi menjadi pengacau perlu dikeluarkan atau ditangkap dari akuarium tanpa merusak susunan koral, karang-karang dan membuat stress penghuni lain. Namun hal itu bukanlah pekerjaan yang mudah, berikut beberapa kiat yang dapat dicoba :

  1. Matikan lampu akuarium selama beberapa jam hingga ikan-ikan mulai tidur. Padamkan lampu ruangan atau cahaya lain sehingga ruangan tampak gelap gulita. Gunakan senter besar untuk mengarahkan cahaya langsung ke mata ikan yang akan ditangkap. Untuk beberapa saat, penglihatan ikan akan terganggu dan tidak bergerak. Itulah saat yang tepat untuk menjeratnya dengan jaring kecil.
  2. Pipa paralon berdiameter 1 inci dengan panjang 30 cm dapat dipakai sebagai perangkap. Lebih ideal lagi tabung transparan untuk mencegah ikan takut. Diameter pipa dan tabung disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Tutup salah satu mulut pipa, lalu buat beberapa lubang kecil di sepanjang tabung. Tujuannya agar tabung dapat tenggelam ke dasar akuarium. Ikat mulut tabung yang tidak tertutup dengan menggunakan benang nilon atau kenur yang tersamar dari ikan. Satu ujung benang diulurkan ke luar akuarium. Isi perangkap dengan pakan seperti potongan udang, lalu tenggelamkan horizontal ke dasar. Amati dan tunggu dengan sabar sampai ikan masuk perangkap. Bila ikan sudah masuk perangkap, tarik ujung benang hingga posisi tabung menjadi vertical. Lubang-lubang disisi tabung berguna agar perangkap bisa ditarik keluar akuarium dengan cepat sebelum ikan kabur.
  3. Cara lain, tangkap ikan saat pemberian pakan. Biarkan ikan tersebut kelaparan. Dengan cara ini, ikan akan lebih agresif menjemput pakan hingga ke permukaan saat diberi pakan. Berikan pakan sedikit demi sedikit sambil disiapkan jaring ikan di tangan. Begitu ikan yang diincar naik ke permukaan, segera ditangkap.
  4. Bila 3 cara diatas tidak berhasil, gunakan wadah transparan yang berlubang-lubang seperti pada topik cara mendamaikan ikan. Gantung wadah transparan tersebut dengan benang nilon di kedua ujung kiri dan kanan. Biarkan selama beberapa hari di akuarium agar ikan-ikan tidak menganggap wadah tersebut sebagai bahaya. Setelah beberapa hari, turunkan wadah transparan sekitar di tengah akuarium, beri pakan seperti biasa namun kali ini diatas wadah transparan tersebut. Pada saat ikan pengacau sedang menjemput pakan diatas wadah tariklah wadah dengan agak cepat agar ikan tidak sempat kabur. Lebih baik sebelum melakukan penangkapan, biarkan ikan pengacau lapar untuk beberapa hari sehingga rasa lapar mengurangi kewaspadaannya terhadap bahaya.

    Selamat mencoba.

Read More.. Read More..

Monday, August 3, 2009

Memilih Dan Memberi Pakan

Semua makhluk hidup butuh makan agar dapat bertahan hidup, begitu pula dengan spesies-spesies yang dipelihara di lingkungan kecil seperti akuarium. Namun, memilih pakan yang tepat dan cara pemberiannya perlu dicermati.

Pemberian pakan yang berlebihan akan berdampak buruk bagi kualitas air. Spesies-spesies terutama ikan, akan selalu tampak lapar dan tidak mengenal kenyang meskipun sudah diberi pakan. Selera makan yang luar biasa tersebut jangan dituruti untuk menghindari bioload memburuk dengan cepat.

Jangan pernah langsung menuang sekaligus pakan ikan ke dalam akuarium, terutama pakan beku. Ikan tidak mampu langsung menghabiskan pakan yang mengambang atau melayang di air. Sebagian pakan tersebut akan langsung tenggelam di dasar akuarium, sedangkan sebagian lainnya tersangkut di celah-celah karang dan secara cepat akan memperburuk kualitas air. Oleh karena itu, pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit untuk menghindari sisa pakan tenggelam ke dasar akuarium. Idealnya, pakan yang diberikan harus habis dikonsumsi oleh ikan dalam hitungan menit (3-5 menit). Bila lebih lama, akan terjadi overfeed alias kelebihan pakan. Pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari.


Khusus koral, beberapa spesies perlu ditangani berbeda dalam pemberian pakan. Maklum, karena beberapa penyebab seperti arus air atau pakan lebih dahulu disantap ikan sehingga tidak sampai disantap koral maka perlu dilakukan direct feeding atau penyuapan langsung ke mulut koral. Pemberian dapat menggunakan penjepit langsung ke mulut koral. Pemberian dapat menggunakan penjepit untuk pakan berbentuk potongan kecil seperti udang segar. Cara lain adalah menggunakan alat suntik yang jarumnya sudah dilepas. Cara tersebut dapat diterapkan pada pakan sejenis udang rebon.

Koral-koral yang perlu disuapi seperti berbagai spesies anemone, cerianthus, karang daging, kolang-kaling, karang melati, jamur berukuran besar (elepant ear) dan polip matahari. Meskipun umumnya memiliki zooxanthellae, koral-koral tersebut tetap perlu diberi pakan agar dapat bertahan hidup.

Intensitas pemberian pakan dua kali seminggu sampai dengan dua minggu sekali berupa pemberian potongan kecil udang dan kerang kupas. Besar potongan disesuaikan dengan ukuran spesies. Pemberian pakan idealnya dilakukan saat polip-polip berkembang maksimal. Koral umumnya menelan pakan sangat lambat, kecuali anemone. Oleh karena itu, ikan dan invertebrata seperti udang dan kepiting akan merebut pakan koral. Sangat dianjurkan pakan diberikan saat lampu mati dan sebagian besar ikan sudah beristirahat. Di malam hari, sebagian koral seperti kolang-kaling, karang daging, polip matahari akan berubah bentuk dan mengeluarkan tentakel-tentakel kecil untuk menangkap pakan yang terbawa arus. Saat seperti ini cocok dilakukan direct feeding.

Pakan dapat diberikan siang hari, tetapi ada kiat yang perlu diketahui agar pakan koral tidak disantap ikan. Sebelum pakan tertelan sepenuhnya, tutupi koral dengan jaring kecil. Bila perlu, koral diberi pakan satu per satu sambil dijaga dari aksi pencurian sampai pakan habis tertelan.

Memberikan pakan memang pekerjaan yang melelahkan dan membuang waktu. Akan tetapi, harus diingat bahwa bila dedikasi dan kecintaan terhadap spesies cukup tinggi, justru saat pemberian makan menghasilkan pemandangan luar biasa dan menakjubkan. Lantas, pakan apa yang tepat untuk spesies ikan? Untuk ikan hias, berikan udang rebon dalam bentuk beku atau hidup. Pakan berupa butiran (granule) atau pellet khusus ikan laut yang nutrisinya lengkap juga sangat bagus karena terdapat kandungan berbagai macam vitamin untuk kesehatan dan daya tahan ikan terhadap penyakit.

Setiap jenis ikan memiliki pakan pokok berbeda. Khusus ikan dari spesies botana (tangs/surgeon fishes) yang bersifat vegetarian, pakan yang diberikan berupa microalgae seperti rumput asam dan anggur laut hijau dan merah. Ataupun bisa memberikan sayur selada air yang biasanya kita makan sebagai lalap. Meski demikian, ikan jenis ini juga bisa cepat beradaptasi dan dapat menyantap udang rebon ataupun pellet.

Pada spesies kima (tridacna clams) dan berbagai spesies yang memanfaatkan filter feeder seperti cacing kipas, akar bahar, polip cengkeh, seroja, pagoda dan payungan, perlu diberikan menu tambahan berupa plankton cair.

Read More.. Read More..

Monday, July 27, 2009

Trik Mendamaikan Ikan Baru Dengan Penghuni Lama

Kadang walaupun kita telah melakukan aklimatisasi/penyesuaian yang cukup bagi ikan baru sebelum dimasukkan ke dalam akuarium, ikan-ikan penghuni lama masih saja mengejar-ngejar penghuni baru tanpa henti. Hal ini akan membuat ikan baru akan bertambah stress karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi. Hal ini sering terjadi apabila spesies baru yang kita beli sama jenis dengan spesies yang sudah ada di akuarium seperti spesies clownfish misalnya antara maroon clownfish (balong) dengan giro pasir.

Untuk menghindari keadaan demikian, ada satu trik yang bisa digunakan agar ikan baru yang kita beli bisa ‘berdamai’ dengan ikan penghuni lama.
Caranya adalah :

  • Lakukan aklimatisasi/penyesuaian spesies baru terhadap suhu air di akuarium seperti biasanya
  • Siapkan suatu wadah seperti pemisah ikan yang warnanya transparan seperti yang banyak dijual di toko-toko peralatan akuarium

  • Ikat wadah tersebut agar tidak terbawa kesana kemari oleh arus yang ada di dalam akuarium
  • Lepaskan spesies ikan baru ke dalam wadah transparan tersebut
  • Biarkan selama beberapa minggu atau bahkan selama berbulan-bulan tergantung keadaan, hal ini bisa dilihat dari kelakuan penghuni lama apakah masih berusaha mendekati spesies baru dan seperti ingin menyerangnya
  • Beri pakan ikan penghuni baru pada saat memberikan pakan pada penghuni di akuarium, sehingga antara penghuni baru dan lama terjalin suatu keadaan yang sama
  • Lepaskan spesies baru dari wadah transparan ke dalam akuarium bila telah dianggap ‘berdamai’, hal ini bisa dilihat dari penghuni lama yang awal mulanya seperti ingin menyerang telah acuh tak acuh terhadap spesies baru yang berada di wadah tersebut
  • Biarkan wadah transparan di tempat semula sampai Anda benar-benar yakin ikan telah ‘berdamai’
  • Usahakan agar wadah transparan tersebut diletakkan miring (bukan menghadap keatas seperti pada waktu spesies baru masih di dalam wadah). Hal ini berfungsi apabila penghuni lama masih berusaha menyerang ikan baru, maka ikan baru akan melindungi dirinya dengan masuk kembali kedalam wadah, dan biasanya penghuni lama tidak akan berani menyerang sampai mendekati wadah transparan tersebut sehingga ikan baru akan aman selama berada di dalam wadah tersebut.

Read More.. Read More..

Friday, July 24, 2009

AKLIMATISASI SPESIES BARU

Salah satu faktor penyebab kematian spesies yang baru dimasukkan ke dalam akuarium adalah tidak dilakukan aklimatisasi/penyesuaian terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa spesies yang dibeli sudah stres sejak dipindahkan dari akuarium penjual dan selama di kantong plastik untuk perjalanan menuju rumah. Keadaan akan semakin parah bila spesies tersebut langsung dimasukkan ke akuarium segera setelah tiba dirumah.

Pernapasan spesies selama di dalam kantong plastik akan meningkatkan kadar karbondioksida sehingga pH air dalam kantong drop dengan signifikan. Pada saat yang sama, kadar amoniak juga akan naik. Meskipun demikian, spesies-spesies tersebut akan tetap bertahan hidup asalkan tidak terlalu lama berada dalam kondisi buruk.

Saat akan dimasukkan ke akuarium, spesies yang baru akan mengalami shock kembali saat mendapatkan kadar pH air yang lebih tinggi di akuarium. Oleh karena itu, perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu agar perubahan kondisi air tersebut tidak berdampak buruk. Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan :

  1. Redupkan lampu diruangan saat membuka kantong plastik berisi spesieskarena cahaya terang secara tiba-tiba akan membuat spesies terutama ikan menjadi stress
  2. Padamkan lampu akuarium
  3. Apungkan kantong plastik berisi spesies di sump atau di akuarium selama 10-15 menit tanpa membukanya. Tujuannya untuk menyamakan suhu air di dalam kantong plastik dengan suhu air akuarium
  4. Tambahkan air akuarium ke dalam kantong setinggi 2-3 cm setiap 5-10 menit selama 20-30 menit sampai kantong penuh
  5. Lepaskan spesies baru ke akuarium dengan menggunakan jaring kecil, jangan dengan tangan. Perlu diingat, air di dalam kantong tidak boleh ikut dimasukkan ke akuarium
  6. Lampu akuarium dibiarkan padam selama beberapa jam agar ikan baru tidak stress akibat diserang oleh penghuni lama. Berikan waktu bagi ikan baru untuk beradaptasi dan mempelajari lingkungan barunya tanpa dikejar-kejar oleh penghuni lama
  7. Beberapa jenis koral akan mengeluarkan lendir selama transportasi. Sebelum dimasukkan ke akuarium, pegang kerangkanya dan guncang-guncang sampai semua lendir dan kotoran terlepas.

    Read More.. Read More..

    Thursday, July 23, 2009

    Tips Memilih Dan Membeli Spesies

    Memilih dan membeli ikan hias, koral dan invertebrata sering dianggap sepele. Padahal sesungguhnya salah satu factor utama agar spesies yang dibeli mampun bertahan hidup di akuarium tergantung pada cara memilih spesies yang tepat dan sehat sebelum dibawa pulang ke rumah.

    Spesies ikan hias yang tampak stress di akuarium penjual perlu dihindari. Perhatikan juga apakah ikan hias terjangkit penyakit seperti whitespot atau tubuh terdapat luka. Atau perhatikan apakah ikan tersebut tampak lesu yang menandakan kurang sehat atau sangat lincah. Selain itu, juga perlu ditanyakan lamanya ikan tersebut berada di akuarium penjual. Hal ini perlu dilakukan karena sebagian nelayan ikan hias menggunakan racun untuk menangkapnya di laut bebas. Racun tersebut memang tidak langsung membunuh ikan-ikan hingga sampai di tangan penjual. Namun bagaimanapun ikan-ikan tangkapan dengan racun akan menjadi tidak sehat dan kemungkinan tidak akan berumur panjang. Bila ikan pilihan sudah disiapkan, sebaiknya Anda meminta penjualnya untuk mengisinya dalam kantong plastik yang diberi oksigen baru sebelum dibawa pulang.


    Khusus koral, Anda perlu mengamati kecerahan warna atau sudah mulai kehilangan zooxanthellae. Kebanyakan spesies koral LPS (Large Polyps Schleractinia) seperti karang daging dan kolang-kaling rentan terluka atau cacaat bila tubuhnya (bukan kerangkanya) disentuh langsung. Oleh karena itu, diingatkan kepada penjual untuk berhati-hati saat koral yang sudah dipilih akan dipindahakan ke dalam kantong plastic agar tidak melukainya apalagi bila koral diambil dengan penjepit. Lebih baik memilih koral yang telah mengembang di akuarium penjual daripada yang masih kuncup karena koral tersebut berarti mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga bila di letakkan di akuarium kita nanti akan lebih cepat mengembang.

    Beberapa koral tertentu seperti spesies sponge, akar bahar (gorgonian), dan kima (tridacna clams) tidak akan bertahan hidup bila berada terlalu lama di luar air. Lebih dari 30 detik saja akan berdampak buruk bagi koral. Oleh karena itu, pastikan bahwa koral yang dipilih segera dimasukkan ke dalam kantong plastic setelah diangkat dari akuarium penjual.

    Read More.. Read More..

    Tuesday, July 21, 2009

    Memilih Dan Merawat Karang Hidup

    Karang hidup mengandung berbagai jenis kehidupan di dalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil. Oleh karena itu, karang hidup perlu dicermati pada saat pemilihan, pengangkutan, perlakuan setiba di rumah dan perawatan di akuarium.

    Saat dibeli, karang hidup dipilih yang masih penuh dengan coralline algae yang warnyanya cerah. Idealnya, karang hidup bercela banyak atau berpori-pori. Bentuk dan besarnya dapat disesuaikan dengan ukuran akuarium.

    Saat diangkut, karang hidup harus tetap terendam air laut tetapi tentunya tidak bisa dibawa dengan kantong plastic. Ini disebabkan terdapat bagian karang yang tajam sehingga dapat membuat kantong bocor. Cara lain membawa karang hidup adalah memakai Styrofoam atau wadah plastic tertutup seperti ember yang sebelumnya sudah diisi air laut. Air laut tidak perlu penuh, cukup karang hidup sudah terendam seluruhnya.

    Bila terpaksa membawa tanpa terendam air laut, maka gunakan kertas koran yang sudah dibasahi air laut untuk membungkus karang hidup tersebut, dan segeralah pulang kerumah agar karang hidup tidak terlalu lama tanpa terendam air karena sebagian organisme yang hidup di karang tersebut akan mati dan nantinya akan mengurangi kualitas air di akuarium bila karang tersebut dimasukkan ke dalam akuarium.

    Amati dengan cermat kehadiran hama aiptasia anemones. Hama yang dikenal sebagai glass anemone tersebut memiliki tentakel beracun yang sanggup membunuh koral dan kima. Bentuknya seperti anemone, tetapi berukuran kecil dan berkembang biak dengan sangat cepat.

    Bagi kebanyakan akuaris pemula, karang-karang hidup di akuarium cepat atau lambat akan tertutupi oleh ganggang hijau dan coklat kemerahan. Hal ini pertanda bahwa kualitas air akuarium buruk atau terdapat penumpukan kotoran ikan dan sisa-sisa pakan diatas karang. Bila hal tersebut benar-benar terjadi, karang-karang hidup perlu dibersihkan dengan sikat halus seperti sikat gigi hingga microalgae tampak bersih. Cara ini dilakukan saat dilakukan penggantian air agar microalgae yang terlepas dapat langsung disedot keluar. Celah-celah karang hidup juga perlu dibersihkan dengan cara disedot saat penggantian air.

    Read More.. Read More..

    Sunday, July 19, 2009

    Tema Akuarium


    Setelah semua kebutuhan dasar sebuah akuarium air laut terpenuhi, langkah yang perlu diperhatikan para akuaris pemula adalah menentukan jenis ikan, koral dan invertebrata yang tepat. Penentuan jenis ikan, koral dan invertebrata harus sesuai dengan asas kesesuaian (compatibility).

    Akuarium air laut tidak boleh asal diisi dengan segala spesies yang tersedia di pasaran. Pasalnya, tidak semua spesies berasal dari habitat serupa, bahkan meskipun berasal dari habitat yang sama, tetap saja masing-masing spesies diambil dari kedalaman berbeda sehingga dibutuhkan lokasi berbeda di akuarium. Selain itu, tidak semua spesies ikan hias, koral dan invertebrata cocok digabungkan dalam sebuah akuarium karena ada yang bersifat predator. Misalnya, semua spesies kepe-kepe dan sebagian angel umumnya sebagai predator bagi koral ataupun spesies kerapu sebagai pemangsa ikan-ikan ukuran kecil.


    Sejumlah spesies ikan hias pun tidak boleh sembarangan digabungkan meskipun berasal dari spesies yang sama karena memiliki perilaku mempertahankan daerah kekuasaan. Misalnya spesies bi-color, royal false gramma atau dottyback akan bertarung sampai mati demi mempertahankan wilayahnya. Sementara balong (maroon clownfish) akan saling menyerang demi anemon. Perlu diingat bahwa ekosistem baru yang disediakan bagi spesies-spesies tersebut merupakan miniatur, bukan di habitat aslinya di laut luas.

    Beberapa spesies ikan pun tidak dapat digabungkan dengan koral karena di habitat alaminya koral-koral tertentu merupakan sumber pakan, misalnya spesies trigger dan kepe-kepe. Dapat dibayangkan, satu saja jenis ikan atau invertebrata predator kotal yang terdapat di dalam akuarium akan membuat stress kehidupan di akuarium. Untuk menangkap ikan predator di dalam akuarium yang penuh karang dan koral bukan pekerjaan mudah.

    Kemudian, sebagian spesies koral diketahui memiliki tentakel beracun bagi koral lain sehingga tidak boleh asal ditumpuk berdesakan. Oleh karena itu, penyusunan dan penempatan koral di akuarium perlu penanganan khusus. Perlu diingat, tidak semua spesies (ikan, koral dan invertebrata) yang dijual dipasaran mampu bertahan hidup pada kondisi artificial di akuarium, meskipun dengan kualitas air yang baik dan ditangani oleh akuaris berpengalaman. Misalnya anemon piring (fungia) sudah dikenal sebagai spesies yang tidak mampu bertahan lama di akuarium, sedangkan acropora dan goniopora termasuk jenis yang sulit dirawat.

    Oleh karena itu, para akuaris pemula perlu terlebih dahulu mempelajari kesesuaian berbagai spesies ikan hias, koral dan invertebrata sebelum memutuskan untuk membelinya. Akuaris pemula perlu menggali informasi sebanyak mungkin dari pemilik toko akuarium dan belajar dari akuaris yang sudah berpengalaman. Kemauan untuk bertanya dan berkonsultasi dengan akuaris berpengalaman mutlak menjadi suatu kebutuhan.

    Dikalangan akuaris air laut dikenal istilah community tank atau theme tank, yaitu akuarium yang diperuntukkan bagi spesies yang berasal dari habitat yang sama, membutuhkan perlakuan yang sama dan kualitas air yang sama. Akuarium tematik ini memudahkan pemeliharaan sekaligus mempertahankan keberlangsungan hidup spesies selama mungkin.

    Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, selain menghemat pengeluaran biaya yang akan terbuang sia-sia, kita juga ikut melestarikan alam laut kita dengan tidak memelihara spesies-spesies ikan, koral dan invertebrata yang tidak mungkin bisa hidup dalam sebuah miniatur akuarium laut yang luasnya sangat terbatas.

    Read More.. Read More..

    Friday, July 17, 2009

    Simulasi Arus Dan Ombak

    Bila memandang permukaan laut, yang pertama kali terlihat adalah deburan ombak. Namun sebetulnya dibawah permukaan air laut tersebut terdapat arus horizontal (current) dan arus vertikal (tides). Arus tersebut tidak konstan, tetapi terus berubah sepanjang waktu. Bahkan sesekali terjadi pertemuan arus (turbulance). Kondisi penuh dinamika ini terutama terjadi pada laut dangkal, habitat ikan hias, koral atau terumbu karang.

    Bila Anda pernah menonton tayangan tentang dunia koral atau pernah menyelam untuk menikmati keindahan koral, pastilah Anda akan tahu bahwa koral-koral tersebut seperti menari mengikuti irama arus dan ombak. Sesekali muncul arus dari kedalaman yang membawa naik berbagai nutrisi dan mineral sebagai sumber pakan.


    Bagi akuaris air laut, kondisi seperti ini sedapat mungkin disimulasikan karena merupakan faktor penting bagi kehidupan koral. Selain untuk membawa pakan (plankton) dan mineral, keberadaan arus menjadi sangat penting bagi koral dan ikan. Koral dan ikan akan memanfaatkan arus untuk membersihkan tubuh dari kotoran. Arus pun bermanfaat pada pertukaran gas oksigen dan karbondioksida.

    Kurangnya arus di akuarium akan berdampak negatif pada kualitas air. Bila di dalam akuarium terdapat area yang sangat rendah dan tidak terkena arus, akan tercipta daerah deadspot. Diarea deadspot tersebut sangat minim kadar oksigennya. Area deadspot akan memicu berkembangnya populasi bakteri anaerob secara tidak seimbang. Selain itu, deadspot akan menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) yang beracun bagi kehidupan di akuarium. Area deadspot umumnya berada di balik karang di belakang akuarium dan di celah karang yang tidak terkena arus.

    Arus yang tidak sesuai akan membuat beberapa jenis koral seperti batu hio, babut, polip matahari, pagoda akan sulit berukuran maksimal. Oleh karena itu, simulasi arus dan ombak di akuarium air laut merupakan faktor penting.

    Kini, sudah ada alat berupa wafemaker dan surge device yang menciptakan arus dan ombak buatan. Namun, alat tersebut sangat langka di Indonesia. Kalaupun ada harganya masih mahal. Oleh karena itu, kita bisa mempergunakan powerhead (pompa) berkapasitas kecil antara 1.000 - 15.000 liter/jam. Powerhead di tempatkan sedemikian rupa agar arus yang tercipta menjangkau hingga ke sudut-sudut akuarium. Bila belum cukup, tambahkan lagi sebuah powerhead yang di pasang di sudut lain hingga dapat menimbulkan efek arus tabrakan. Agar simulasi arus dinamis, bisa menggunakan timer yang banyak tersedia di toko-toko alat listrik. Timer diatur untuk mematihidupkan powerhead secara acak, sesekali on atau off secara bersamaan.

    Perlu diperhatikan, beberapa jenis koral seperti spesies jamur tidak menyukai arus yang terlalu kencang. Untuk itu, penyusunan koral di akuarium tidak boleh asal-asalan. Jangan sampai koral yang tidak menyukai arus tersebut malahan terkena arus berlebihan, begitu pula sebaliknya.
    Read More.. Read More..

    Tuesday, July 14, 2009

    Mengontrol Suhu Air Dengan Chiller

    Suhu air akuarium merupakan salah satu faktor penting yang sering disepelekan para akuaris air laut pemula. Suhu air akuarium perlu dijaga agar tidak melewati ambang batas minimum dan maksimum. Untuk mengetahui suhu air tersebut, gunakan thermometer khusus akuarium. Suhu yang terlalu tinggi ataupun rendah akan membuat penghuni akuarium stress dan menyebabkan kematian. Bukan itu saja, suhu air yang terlalu tinggi akan mempengaruhi komposisi kimiawi air.



    Sebagian besar spesies ikan hias, koral dan invertebrata yang diperdagangkan di pasaran Indonesia berasal dari habitat laut yang lebih dangkal sehingga suhu air yang nyaman bagi penghuni akuarium pada umumnya berkisar antara 25 – 30 derajat celcius, khususnya ikan. Namun biasanya jenis koral dan invertebrata memerlukan suhu air yang lebih rendah. Secara umum, suhu yang bisa diakomodasi oleh ikan, koral dan invertebrata adalah berkisar antara 25 – 28 derajat celcius.

    Cara mudah untuk mengontrol dan mempertahankan suhu air di akuarium adalah dengan menggunakan mesin pendingin air atau Chiller.
    Namun harga Chiller di pasaran memang masih relatif mahal untuk digunakan, dan listrik yang dipakai pun cukup besar seperti mesin pendingin ruangan yang biasa kita gunakan (AC).
    Dengan menggunakan Chiller, koral dan tanaman hias air laut akan mekar secara maksimal karena mendapatkan suhu air yang tepat sehingga akuarium akan terlihat lebih indah.

    Read More.. Read More..

    Monday, July 13, 2009

    Cara Mengatasi Penguapan Air Laut Di Akuarium

    Biasanya dalam hitungan hari air laut yang berada di dalam akuarium sering berkurang dikarenakan penguapan. Berkurangnya air laut tersebut pada setiap akuarium tidak sama, hal ini tergantung kepada volume air yang ada pada akuarium masing-masing, penggunaan lampu yang bervariasi ataupun letak akuarium apakah di tempat yang mudah membuat terjadi penguapan atau tidak.
    Untuk menambahkan air agar volume air kembali normal, sebaiknya jangan ditambahkan dengan air laut kembali. Hal ini dikarenakan air laut di akuarium yang menguap akan membuat kadar garam di dalam air akuarium meningkat akibat penguapan tersebut. Sehingga untuk menetralkan kembali kadar garam di akuarium, air yang ditambahkan cukup berupa air tawar yang telah diendapkan minimal satu malam ataupun yang lebih baik menggunakan air isi ulang yang harganya cukup murah. Dengan air minum isi ulang, minimal air tersebut sudah melalui proses penyulingan sehingga air dapat langsung dimasukkan ke dalam akuarium.

    Proses ini sama seperti ekosistem yang terjadi di laut asli. Air laut di lautan bebas terjadi penguapan dikarenakan sinar matahari, kemudian dinetralkan oleh air hujan yang turun sehingga kadar garam di laut kembali normal dalam ambang batas yang sesuai dengan ekosistem di laut.

    Read More.. Read More..

    Penggantian Air Rutin

    Meskipun sudah menggunakan filter mekanis, filter biologi dan protein skimmer, air tetap perlu diganti secara berkala. Air baru yang dipakai umumnya berupa air laut alami atau bisa air laut buatan. Mengganti air dengan air laut buatan belum banyak dilakukan di Indonesia. Ini disebabkan air laut buatan memerlukan garam khusus yang harganya mahal dan belum banyak beredar di Indonesia. Air laut yang bersih bisa dibeli dengan mudah dan murah.

    Pemakaian air laut buatan lebih repot karena sumber air yang dipakai perlu diolah (dipurifikasi/disuling) dengan reverseosmosi/deonization (RO/DI). Pengolahan ini untuk menghilangkan kandungan klorin, fosfat, silika dan bahan berbahaya lainnya.

    Penggantian air tidak boleh dilakukan dengan menguras habis isi akuarium karena bukan saja akan merusak siklus yang sudah berjalan, tetapi juga membuat penghuni akuarium stess dan mati. Oleh karena itu, penggantian air cukup sebagian saja. Pembuangan sebagian air lama berfungsi menghilangkan sampah organik serta menambah plankton dan mineral yang berguna menjadi pakan bagi kehidupan di ekosistem.


    Tidak ada patokan seberapa sering air perlu diganti, begitu pula dengan volume air. Namun semua tergantung seberapa cepat kualitas air di akuarium menurun dan seberapa rendah kualitas air tersebut. Keputusan mengganti jumlah volume dan waktu penggantian juga perlu mempertimbangkan kualitas airnya dengan mengukur berbagai parameter air. Bila kualitas air sudah buruk yang ditandai tingginya bioload atau akibat kerja filter biologi tidak maksimal, sangat disarankan setengah volume air akuarium diganti. Bila hanya penggantian rutin, sebaiknya air yang diganti sebanyak 5 - 10% per minggu atau 20-25% per dua minggu.

    Satu hal yang perlu dicatat ialah penggantian air harus dilakukan secara rutin dan teratur agar ikan dan koral tidak stress akibat pola penggantian yang tidak teratur dan berubah-ubah. Namun ada yang sering disepelekan oleh para akuaris mengenai kondisi air laut baru yang dijadikan pengganti. Belum tentu air yang dibeli benar-benar berkualitas baik dan sesuai parameter asli air laut alami. Bahkan bisa saja air pengganti lebih jelek kualitasnya. Oleh karena itu tidak salahnya untuk terlebih dahulu menguji parameter kualitas air laut yang dibeli meskipun merepotkan. Atau membeli air laut baru di tempat-tempat yang bisa dipercaya kualitasnya karena mereka telah mengujinya.
    Read More.. Read More..

    Friday, July 10, 2009

    Fungsi Protein Skimmer

    Meskipun wet-dry-trickle filter sudah bekerja dengan efektif, belum berarti masalah sudah selesai. Produk akhir dari wet-dry-trickle filter yaitu nitrat, masih menyimpan masalah terutama saat kadarnya melebihi ambang batas (antara 5,0-20 mg/ltr) akibat spesies yang overcrowded atau pemberian pakan berlebihan.
    Beruntunglah para pakar sudah menemukan metode baru yang dapat membuang kadar nitrat secara signifikan melalui protein skimmer atau foam fractionation. Selain membuang nitrat dari air, protein skimmer yang beroperasi 24 jam tersebut pun mampu membuang berbagai sampah organic, termasuk kandungan fosfat dan silica yang kerap memicu tumbuhnya brown diatom algae.

    Dipasaran sudah banyak ditawarkan jenis protein skimmer. Ada yang menggunakan powerhead dengan system venture, ada pula yang hanya menggunakan air pump (pompa udara). Model yang berbeda akan berpengaruh pada efektivitas.



    Prinsip kerja protein skimmer adalah mengalirkan udara ke air sehingga menimbulkan gelembung-gelembung udara berukuran kecil atau halus. Gelembung-gelembung halus yang jumlahnya sangat banyak akan mengikat sampah organic yang kemudian membawanya ke permukaan tabung pembuangan dalam bentuk busa kering.

    Bagaimana caranya menentukan bahwa protein skimmer yang digunakan berfungsi dengan baik? Protein skimmer yang efektif akan mampu menciptakan gelembung udara sebanyak mungkin dengan ukuran sangat kecil. Semakin lama gelembung udara tersebut kontak dengan air maka semakin banyak sampah organic yang diikat, lalu dibuang. Oleh karena itu, semakin besar ukuran protein skimmer maka kemampuan kerjanya akan lebih efektif.

    Memastikan bahwa protein skimmer yang dipilih sudah efektif dan pengoperasiannya benar dapat dengan memperhatikan busa yang diproduksi. Busa tersebut harus kering (bukan berupa air) dan terus menumpuk di mulut tabung pembuangan sampai busa kering berikutnya mendorongnya masuk ke tabung pembuangan. Lama kelamaan busa tersebut akan mencair dengan warna hijau kecoklatan atau coklat kehitaman dan berbau khas. Bila limbah yang dihasilkan cukup banyak, tabung pembuangan akan penuh dalam waktu kurang dari seminggu (untuk akuarium berukuran 300-400 liter dengan jumlah spesies padat). Namun untuk akuarium yang baru di set-up, pada minggu pertama tentu belum banyak limbah karena siklus nitrogen belum berjalan.

    Read More.. Read More..

    Wednesday, July 8, 2009

    Filtrasi Biologi


    Untuk mempertahankan keseimbangan siklus nitrogen sekaligus mempertahankan kualitas air, dibutuhkan suatu sistem filtrasi biologi. Filterisasi secara biologi adalah merekayasa keadaan hidupberbagai mikroorganisme yang diperlukan

    Ada banyak sistem filtrasi biologi yang umum dikenal. Pada dekade tahun 60-an saat hobi ini mulai berkembang di negara barat, diandalkan metode undergravel filter. Namun, pda perkembangan selanjutnya metode konvensional tersebut tidak efektif lagi dalam menjalankan siklus nitrogen dan mempertahankan kualitas air. Bahkan metode ini hanya merepotkan hobiis karena perlu sering dibersihkan dari sisa-sisa metabolisme yang menumpuk di dasar akuarium.

    Seiring makin menjamurnya akuaris berpengalaman dengan berbagai penelitian mereka, berkembang pula berbagai metode dan sistem filtrasi seperti wet-dry trickle filter method, berlin method, algae scrubber method, jaubert method, live sand bed method hingga mud/eco method. Semua metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.


    Wet dry trickle filter umumnya disembunyikan di dalam kabinet bawah akuarium. Ada juga model akuarium yang filternya ditempatkan menyatu di samping atau di belakan akuarium sehingga tidak perlu lagi ruangan kabinet dibawahnya. Filter ini terdiri i tiga bagian yang dilewati air. Air yang mengalir dari akuarium dengan mengandalkan gaya gravitasi akan melewati saringan pertama filter mekanis atau pre-filter berupa lapisan busa. Selanjutnya air mengucur kebawah melewati tumpukan bioball sebagai tempat hidup bakteri aerob. Untuk itu sebagian bioball tidak terendam dalam air sebagai lapisan kedua. Tujuannya agar air yang melewatinya selalu kaya oksigen. Sebagian bioball lagi atau lapisan ketiga terendam sepenuhnya dalam air. Bioball dapat diganti dengan serpihan karang mati meskipun tidak seefektif bioball. Ini disebabkan bioball dirancang memiliki permukaan yang banyak sebagai tempat hidup bakteri aerob.

    Setelah melalui lapisan ketiga, air sudah tidak mengandung amoniak yang terurai menjadi nitrat. Air kemudian dipompa ke atas menggunakan powerhead sehingga masuk kembali ke akuarium. Perlu dicatat bahwa filter biologi akan bekerja efektif bila volume air yang melewatinya cukup. Idealnya, untuk setiap jamnya volume air yang tersaring melalui wet-dry trickle filter minimal dua kali volume air akuarium. Oleh karena itu, powerhead harus disesuaikan dengan kapasitas akuarium. Semakin besar akuarium atau volume air maka semakin besar kapasitas pompa atau powerhead yang dipakai.

    Read More.. Read More..

    Monday, July 6, 2009

    Karang dan Pasir Hidup


    Untuk mempercepat berlangsungnya siklus nitrogen, ada kiat yang bisa ditempuh. Saat pertama kali men-set-up akuarium baru, disarankan untuk menggunakan pasir hidup (live sand) sebagai dasar akuarium dan karang hidup (live rock) sebagai karang dekorasi. Pasir dan karang disebut hidup karena di dalamnya terdapat kehidupan mikroorganisme yang berperan pada berbagai tahap siklus nitrogen. Tidak seperti karang mati putih polos yang umum dipakai dalam mendekorasi akuarium display di toko-toko ikan hias dan koral. Karang hidup dipenuhi coraline algae atau ganggang koral yang berwarna-warni seperti ungu, merah jambu dan hijau.

    Pada lingkungan laut asli, pasir dan karang hidup berfungsi sebagai filter alami. Oleh karena itu, salah satu metode filtrasi cukup mengandalkan pasir dan karang hidup sebagai media untuk menyaring sekaligus mempertahankan kualitas air.

    Satu atau dua ekor ikan yang relatif tahan terhadap kualitas air buruk, seperti green chromis atau blue damsel dapat dimasukkan ke dalam akuarium baru. Begitu pula sebagian pasir dan serpihan karang dari dasar akuarium yang sudah stabil dimasukkan ke akuarium yang baru selesai diset. Pasir dan serpihan karang yang stabil sudah kaya mikroorganisme yang akan mempercepat siklus nitrogen di akuarium baru.
    Read More.. Read More..

    Friday, July 3, 2009

    Bersatunya Ikan Air Laut Dan Tawar



    ASAM DI GUNUNG, GARAM DI LAUT BERTEMUNYA DI DALAM BELANGA. UNGKAPAN ITU PAS BENAR UNTUK MENUNJUK TEMUAN SPEKTAKULER YANG DIPAMERKAN PADA AJANG AQUARAMA 2009. IKAN BADUT ALIAS CLOWN FISH AMPHIPRION PERCULA YANG BIASA HIDUP DI LAUT KEDALAMAN 8 - 10 M BERENANG BERDAMPINGAN DENGAN MASKOKI CARRASIUS AURATUS DARI KOLAM AIR TAWAR DALAM SATU AKUARIUM.

    'Wah ini kabar baik, pasti banyak orang yang suka,' kata Prof Dr Gumilar Rusliwa Soemantri, rektor Universitas Indonesia. Sebagai pencinta koi Gumilar mafhum ikan hias tawar dan laut berbeda habitat. Jika bisa hidup berdampingan jelas luar biasa. Bima Saksono, eksportir ikan hias di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pun tak pernah mendengar keduanya bisa hidup bersama di satu akuarium.

    'Keajaiban' itu dihadirkan di Aquarama 2009 oleh produsen pakan dan aksesori akuarium GEX Corporation asal Osaka, Jepang. Di stannya, GEX memajang kotak kaca berukuran 100 cm x 80 cm x 60 cm yang dihuni aneka ikan hias laut dan tawar. Segerombol ikan badut dan seekor kuda laut Hippocampus sp berseliweran di antara tiga ryukin dan seekor ranchu yang asyik berenang ria di antara koral artifisial bercorak merah dan tanaman air. Sementara ikan hias tawar lain: gurami hias, platy, dan beberapa ekor guppy hilir mudik di dinding belakang akuarium.

    Pemandangan kontras seperti ini tak pelak membuat puluhan pengunjung dan peserta pameran Aquarama 2009 dari berbagai negara silih berganti melongok isi akuarium itu. Singkat kata tak ada ucapan lain yang keluar dari mulut mereka selain kalimat 'luar biasa'. Menurut Mulyadi, ahli kimpoi suntik ikan hias di Bandung, Jawa Barat, yang ditampilkan stan GEX itu memang anomali. Wajar stan itu menjadi bintang di Aquarama 2009.

    Terobosan ini selangkah lebih maju dibandingkan inovasi serupa pada Aquarama 2007. Ketika itu stan H2O Aquarium dari Singapura juga menampilkan ikan hias laut dan tawar di satu akuarium. Namun, sesungguhnya mereka tetap hidup di dua akuarium berbeda. Pada akuarium laut berukuran 3 m x 1 m itu dibenamkan 3 buah akuarium air tawar. Sepintas ikan laut dan tawar seperti berenang bersama saat dilihat dari bagian depan akuarium.

    Dokumen 1971
    [IMG]
    http://www.trubus-online.co.id/mod/p...media/2224.jpg[/IMG]

    Menurut Yuichiro Miyauchi, staf GEX, kunci teknologi penggabungan dua jenis ikan hias berbeda habitat itu adalah marine treatment yang dikembangkan oleh Yamamoto Toshimasa, dosen dari Okayama University of Science Specialized Training College. Produk itu berupa bubuk putih yang bisa meningkatkan kadar elektrolit pada air tawar. Elektrolit merupakan zat yang mudah terurai dalam bentuk ion-ion. Salah satu ikatan elektrolit yang terkenal adalah NaCl alias garam.

    Miyauchi tak bersedia mengungkapkan duduk perkara bagaimana senyawa dalam bubuk tadi bekerja. Namun, saat Trubus mencoba mencicipi sedikit air akuarium yang diberi oksigen terlarut melalui aerator, terasa agak asin alias payau. Data lain yang bisa terungkap adalah pengaruh pemberian marine treatment yang tertuang di selembar kertas dan ditempel di sisi akuarium. Di sana tertulis: bubuk putih, 2 unsur mineral dalam satu boks, pH 7,2 - 7,6, salinitas 7 - 9 ppm, suhu 25?C, dan tidak beracun.

    Yang tampak kasat mata, akuarium itu memakai chiller - pendingin--yang suhunya disetel 25?C dan filter biologis. Tak tampak protein skimmer, pengurai amoniak pada kondisi air asin. Sebab itu Takehito Morimoto, staf lain, menyebutkan air perlu diganti setiap 2 minggu. Kesan misterius itu belakangan menjadi gunjingan ramai di berbagai blog pengunjung pasca - Aquarama 2009. Contoh Benny Ng asal Singapura. Di blognya Benny memajang foto akuarium itu dan menyisip komentar, 'Bagaimana caranya?'.

    Penelusuran Trubus menemukan fakta mengejutkan. Penyatuan ikan hias laut dan tawar dalam satu akuarium bukan hal baru. Setidaknya itu tampak dari berkas dokumen hak paten yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan nomor paten 3683855 pada 1971 atas nama Tronic Product Inc asal negara bagian New Jersey. Di sana diuraikan langkah-langkah pembuatan larutan yang mampu membuat ikan berbeda habitat itu nyaman hidup bersama.

    Larutan itu adalah senyawa organik yang terdiri dari bahan etilen glikol dan propilen glikol. Etilen glikol dikenal sebagai cairan tak berwarna, tak berbau, dan berasa manis serta larut dalam air. Senyawa itu merupakan bahan baku utama industri tekstil, cat, kanvas rem, sampai bahan antibeku. Propilen adalah hasil samping dari pembuatan sabun dan lilin. Ia muncul sebagai reaksi dengan asam lemak dan minyak.

    Larutan itu yang dicampurkan dengan campuran air laut dan tawar pada salinitas 12 - 14 ppm. Untuk mendapatkan derajat keasaman sekitar 7,2 - 7,6 seperti terjadi pada akuarium GEX, larutan diberi tambahan 0,75 - 1,5 g garam silikat metal. Silikat metal terdiri atas unsur sodium dan kalium.

    Selanjutnya apa yang terjadi di tubuh ikan? Sejatinya cairan dalam tubuh ikan tawar dan laut memiliki salinitas hampir sama meski konsentrasi garam di habitat masing-masing berbeda. Salinitas cairan dalam tubuh ikan laut sekitar 2/5 ppm dari salinitas laut sebesar 33 ppm; ikan tawar 1/5. Agar keseimbangan tekanan terjaga, mekanisme osmosis bekerja di tubuh ikan. Intinya ikan akan mengatur keluar-masuk air di tubuh. Dengan alasan itu pula larutan yang disebut di atas memiliki konsentrasi garam sesuai kisaran salinitas cairan tubuh kedua ikan berbeda habitat, antara 1/5 - 2/5 ppm.

    Adaptasi
    Menurut Prof Dr Suharsono ikan tawar dan laut dapat dipelihara pada satu tempat. 'Pada ikan laut ini bisa dilakukan pada ikanikan estuarin,' kata kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Ancol, Jakarta Utara. Estuarin merujuk pada ikan-ikan yang hidup di muara sungai. Di sana salinitas lebih kecil sekitar 12 ppm. Di laut salinitas mencapai 33 ppm.

    Sebab itu ikan muara seperti bandeng Chanos chanos, ketang-ketang Ogcocephalus radiatus, atau salmon tak sulit hidup meski mereka harus berada di lingkungan dengan salinitas berbeda. 'Sistem osmoregulasi mereka sudah berkembang baik. Jadi kalau disatukan dalam kondisi payau bersama ikan tawar, ikan estuarin lebih tahan, bahkan tanpa proses aklimatisasi,' kata doktor bidang ekologi koral dari Departemen Biologi Universitas Newcastle Upon Tyne di Inggris itu.

    Namun, pada kasus clown fish dan kuda laut yang dipelihara bersama-sama ikan hias tawar seperti disaksikan di stan GEX kondisinya agak berbeda. Berbeda karena ikan badut dan kuda laut itu murni hidup di laut, sekitar terumbu karang. Tanpa proses adaptasi sulit rasanya bagi kedua ikan itu hidup di kondisi payau. 'Perubahan salinitas sampai di bawah 26 ppm dapat membuat ikan laut sejati mati,' kata Suharsono. Satu-satunya cara menggunakan ikan laut sejati hasil budidaya. Mereka lebih adaptif karena telah dikondisikan pada salinitas lebih rendah.

    Hal senada disampaikan oleh Dra Kadek Ari yang berhasil membiakkan clown fish dan kuda laut di luar habitat asli pada 2008. 'Yang bisa hidup pasti ikan hias laut hasil budidaya,' kata peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung itu. Foto di stan GEX yang dikirim padanya mengungkapkan hal ini. 'Dari warna tubuh clown fish, jelas ini hasil budidaya. Warna ikan lebih muda. Ciri lain ikan terlihat akur bergerombol. Di alam tidak seperti itu,' katanya.

    Malah Kadek seperti mengenali ikan badut di akuarium GEX itu. Maklum setelah sukses menangkarkan, Kadek sering mengirimkan ikan badut dan kuda laut ke Jepang. Boleh jadi itu alasan mengapa hanya ikan hias laut clown fish dan kuda laut yang ditampilkan di akuarium GEX. Kedua ikan hias laut itu sudah berhasil dibudidayakan.

    Pada ikan hias tawar tak perlu memakai hasil penangkaran. 'Ikan tawar sebetulnya malah nyaman berada di kondisi payau karena salinitas tubuhnya mendekati salinitas lingkungan,' ujar Melta Rini Fahmi SPi, MSi, peneliti Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar di Depok, Jawa Barat. Artinya ikan hias tawar hanya cukup diaklimatisasi agar bisa hidup di kondisi sedikit payau.

    Peluang
    Kehadiran teknologi penggabungan ikan hias laut dan tawar itu cukup diminati hobiis. Grigorius Tam dari Yunani, misalnya, berharap dapat membeli produk marine treatment sesudah resmi dilepas di pasaran oleh GEX pada Agustus 2009. Grigorius ingin mencoba sekadar bersenang-senang. 'Saya punya sebuah akuarium laut di rumah,' kata pemilik toko perlengkapan ikan hias di Akrapolis itu.

    Menurut Jemmy Gunawan di sentra ikan hias Jalan Kartini, Jakarta, teknologi ini memang berpeluang besar disukai hobiis. Pemilik gerai KDC itu merujuk saat ia bereksperimen menggabungkan ikan hias laut seperti balong, kepe-kepe, dan giro pasir, bersama tiga maskoki tossa di akuarium berukuran 60 cm x 30 cm x 20 cm pada 2007. Ini untuk pajangan di tokonya. Hasilnya? Gerai milik Jemmy dibanjiri pengunjung. 'Mereka senang melihatnya, tapi begitu tahu harga filter yang dipakai sampai Rp80-juta, mereka mundur,' katanya.

    Syarat harga terjangkau diungkapkan oleh Gumilar. 'Hasil teknologi baru itu akan cepat diterima hobiis bila murah dan ramah lingkungan,' ujar Gumilar. Pun Cecep Hidayat dari Firda Aquarium di sentra ikan hias Jalan Sumenep, Jakarta Pusat, 'Kalau harganya murah pasti diminta,' ujarnya. Toh, inovasi yang ditampilkan oleh stan GEX membuka wawasan bahwa tak ada yang tak mungkin dicoba. Melihat maskoki dan ikan badut berenang bersama di satu akuarium sangat menyenangkan. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi T dan Faiz Yajri)

    Sumber :
    http://www.trubus-online.co.id/index.php
    http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=1893

    Read More.. Read More..

    Saturday, June 27, 2009

    NEMO BERKEMBANG BIAK

















    Bagi Anda penggemar ikan hias laut yang biasa disebut clownfish atau nemo, pernahkah ikan Anda sampai berkembang biak?
    Saya mengalaminya di akuarium air laut dirumah. Kebetulan saya mempunyai sepasang clownfish yang bisa berkembang biak sampai bertelur dan menetas. Clownfish yang berkelamin jantan adalah clownfish dari kepulauan seribu sedangkan clownfish betina adalah jenis clownfish Irian yang sekarang sudah jarang ada di pasaran. Clownfish Irian berbeda warna dengan clownfish pada umumnya. Pada bagian badan yang berwarna orange di clownfish biasa, di clownfish Irian berwarna hitam.

    Clownfish tersebut selalu bertelur setiap dua minggu sekali, sayang saya hanya bisa sampai pada tahap menetas seperti yang terlihat pada gambar. Selanjutnya beberapa hari menetas, anak-anak clownfish yang masih menempel pada media bertelur itu pun hilang entah kemana. Mungkin dimakan oleh induknya ataupun oleh ikan jenis lain.

    Tapi, yang pasti sekitar setiap dua minggu sekali clownfish tersebut bertelur lagi dan menetas dan kemudian hilang kembali. Mungkin perlu pengelompokan antar sesama clownfish, tidak bercampur dengan ikan jenis lain pada akuarium yang sama.
    Read More.. Read More..

    Friday, June 26, 2009

    Siklus Nitrogen

    Pengolahan air memakai filrasi biologi terkait erat dengan siklus nitrogen (nitrogen cycle). Pengetahuan tentang siklus nitrogen yang berlangsung pada ekosistem akuarium air laut layak diketahui. Sisa metabolisme ikan, koral, invertebrate dan sisa pakan akan diolah oleh microcrustacea, nematode, fungi dan protozoa menjadi amoniak (NH3). Amoniak beracun bagi penghuni akuarium.
    Untunglah kehadiran amoniak tersebut mengundang kehidupan lain seperti bakteri aerobic yang bertugas menguraikan amoniak menjadi nitrit (NO2) dan nitrat (NO3). Bakteri aerobic membutuhkan oksigen untuk menjalankan fungsinya tersebut. Nitrit sangat beracun bagi ikan dank oral, sementara nitrat tidak beracun. Namun, kadar nitrat yang terlalu tinggi di air tetap perlu dihindari. Kadar nitrat diatas 20 mg/liter air memancing kehadiran berbagai jenis microalgae yang merusak keindahan akuarium.
    Kelompok bakteri lain yang menguntungkan disebut bakteri anaerob yang mengubah nitrat menjadi nitrogen dan oksigen. Tidak seperti bakteri aerob, kelompok bakteri anaerob hidup dalam kondisi rendah oksigen.


    Dalam tahap ini, siklus nitrogen sudah berlangsung. Permasalahan muncul saat tidak ada keseimbangan dalam siklus. Misalnya, ada beberapa tempat di akuarium yang tidak cukup melimpah oksigen sehingga bakteri aerob tidak dapat berkembang biak dalam jumlah yang cukup pada siklus nitrogen. Sebaliknya, bila tidak ada area yang rendah oksigen sehingga populasi bakteri anaerob tidak mampu mengolah nitrat maka akan terjadi kondisi new tank syndrome. Pada kondisi tersebut akuarium dipenuhi berbagai jenis ganggang dan lumut yang mengganggu keindahan. Tingginya bioload karena ketidakseimbangan siklus nitrogen akan menurunkan kualitas air dan menyebabkan kehadiran berbagai penyakit.

    Ketidakseimbangan ekosistem paling sering dialami para akuaris pemula karena ada kecenderungan untuk mengisi akuarium dengan berbagai spesies hingga overcrowded, begitu pula akibat pemberian pakan yang berlebihan.
    Kesalahan lain ialah para akuaris pemula ingin cepat-cepat mengisi akuarium, padahal sebelum siklus nitrogen berlangsung stabil, akuarium belum dapat diisi spesies ikan, koral dan invertebrata lain. Proses siklus nitrogen menyita waktu 2-8 minggu. Itulah alasan kenapa akuarius air laut pemula selalu dilanda stress setiap hari dengan kematian ikan dan koral.
    Read More.. Read More..

    Thursday, June 25, 2009

    JERNIH TIDAK BERARTI BERSIH


    Berbeda dengan akuarium air tawar, kejernihan air akuarium air laut belum menandakan kualitas air tersebut baik. Artinya, air jernih tidak berarti bersih. Pengertian bersih untuk akuarium air laut bukan hanya dilihat secara visual saja, tetapi perlu dilihat parameter-parameter air yang akan mendukung kehidupan makluk penghuni akuarium.

    Selesai menyiapkan akuarium dan lampu, langkah selanjutnya adalah memikirkan pemakaian sump. Sump berfungsi sebagai reservoir yang memudahkan penggantian air serta mempertahankan level permukaan air di akuarium. Selain itu, sump akan mengolah air yang mengandung sisa-sisa metabolisme. Air yang sudah diolah dipompakan kembali ke akuarium dengan sejumlah parameter air yang sudah jauh lebih baik dan bersih. Bersih disini artinya bersih secara visual dan biologis.

    Menjernihkan air dari akuarium diawali dengan mengalirkan air melalui filter mekanis. Filter ini terdiri dari busa untuk menyaring kotoran dan partikel kasat mata. Setelah lolos dari filter, besar kemungkinan air tersebut sudah jernih, tetapi belum tentu sehat. Oleh karena itu, air tersebut masih perlu diolah lebih lanjut dengan memakai filtrasi biologi.


    Read More.. Read More..

    Wednesday, June 24, 2009

    Matahari Artifisial

    Di habitat asli, spesies koral dan ikan hias airu laut tidak dapat bertahan hidup tanpa sinar matahari. Sebagian besar spesies koral tersebut bersimbiosis dengan makluk bersel tunggal dinoflagellate yang hidup di kulit dan tubuh koral. Organisme yang disebut zooxanthellae tersebut membutuhkan sinar yang cukup sebagai sumber energi untuk menyediakan pakan bagi koral agar bertahan hidup. Ragam warna koral sebetulnya adalah zooxanthellae.

    Lampu akuarium bukan hanya sebagai estetika, tetapi juga merupakan salah satu factor utama yang menjadi kunci sukses dalam pemeliharaan akuarium air laut. Memang tidak ada lampu yang mampu menyamai iluminasi, spectrum dan intensitas sinar matahari. Namun sekarang ini sudah tersedia beragam produk khusus akuarium air laut yang berfungsi sebagai matahari artificial. Tanda awal lampu akuarium kurang tepat adalah memudarnya warna koral.

    Beberapa jenis lampu dapat dipakai seperti lampu TL (fluorescen tube). Khusus akuarium air laut, jenis lampu TL yang dipakai antara lain actinic blue dan daylight. Di Indonesia, lampu TL yang beredar termasuk normal output. Sebenarnya ada jenis lampu very high output (VHO) yang sinarnya lebih terang. Namun, lampu andalan bagi akuaris air laut adalah jenis metal halide (MH).


    Pemilihan jenis lampu sangat tergantung pada jenis spesies yang dipelihara. Bila sebagian besar merupakan spesies yang membutuhkan iluminasi, spectrum dan intensitas tinggi, disarankan untuk menggunakan lampu MH. Lampu MH umumnya memiliki color temperature (Kelvin) 10.000 K, 14.000 K dan 20.000 K.
    Bila dipilih lampu berkekuatan 10.000 K, lampu tersebut perlu dipadukan dengan lampu actinic blue. Lampu 14.000 K atau 20.000 K tidak perlu ditambahkan lampu actinic blue. Ini disebabkan semakin tinggi color temperature akan semakin biru cahaya lampunya. Sayang, lampu MH masih tergolong mahal di Indonesia. Meskipun mahal, lampu jenis ini lebih menguntungkan karena awet hingga lama. Selain itu lampu MH memiliki efek estetika seperti sinar matahari dibanding lampu TL dan akan menciptakan bayangan riak air di akuarium seperti di laut dangkal.

    Lampu TL masih bisa digunakan dengan memadukan actinic blue dan daylight, perbandingan 50 : 50. Keuntungannya ialah lampu TL tidak sepanas lampu MH yang membutuhkan aksesoris tambahan untuk menurunkan suhu air.

    Lampu apapun yang dipilih perlu berpatokan pada jumlah watt dikalikan volume air. Jumlah watt ideal untuk pencahayaan di akuarium air laut adalah 2-4 watt pergalon air (1 galon = 3,8 l). Misalkan, dengan volume air 200 liter maka dibutuhkan sekitar 400-800 watt. Kurangnya jumlah watt memang tidak langsung membuat koral mati, namun dengan berpatokan pada nilai standar tersebut maka umur spesies akan jauh lebih lama. Misalnya berbagai spesies anemone laut (actinians) yang sebenarnya dapat mencapai umur ratusan tahun di habitat asli akan pudar warnanya dalam hitungan minggu, kemudian mulai mengecil dan akhirnya sekarat dan mati bila lampu akuarium tidak sesuai.

    Ikan hias air laut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dengan iluminasi dan spectrum lampu. Namun, pengaruh tersebut tampak pada koral. Bila salah perhitungan, koral tidak mekar maksimal sehingga cepat atau lambat warnanya akan pudar bahkan kemudian mati.

    Waktu pencahayaan tidak kalah penting di banding jenis lampu dan jumlah watt. Harus diingat bahwa disini Anda sedang mencoba menghadirkan miniature ekosistem koral. Sangat wajar bila diperlukan simulasi seperti di habitat aslinya.
    Koral membutuhkan sinar untuk berfotosintesis, oleh karena itu lampu akuarium perlu dinyalakan pagi hari dan dipadamkan pada petang hari. Lama penyinaran antara 10-14 jam. Penyinaran yang terlalu singkat tidak akan memberikan waktu bagi koral untuk melakukan fotosintesis. Sementara penyinaran yang terlalu lama akan mengundang ganggang dan lumut (microalgae) yang tidak diinginkan, seperti brown diatom algae yang memenuhi kaca, dasar akuarium dan karang. Microalgae membutuhkan energi dari cahaya untuk berkembang biak.

    Untuk menyimulasikan matahari terbit dan matahari tenggelam, nyalakan satu lampu actinic blue selama satu jam pertama dan satu jam terakhir. Agar tidak repot, gunakan timer yang mudah diperoleh di toko-toko alat listrik.
    Read More.. Read More..

    Tuesday, June 23, 2009

    Ukuran dan Bentuk Akuarium

    Salah satu kesalahan awal dari akuaris air laut pemula adalah memilih ukuran dan bentuk akuarium. Lingkungan artificial untuk penghuni laut dangkal tidaklah sama dengan ikan hias air tawar. Harus diingat, yang hadir adalah sebuah miniature kehidupan laut tropis dangkal. Spesies koral dan ikan hias air laut tidak bertahan lama seandainya tidak memiliki lingkungan seperti di habitat asli. Tentu saja tidak mungkin menghadirkan akuarium yang 100% mirip habitat asli. Namun pemakaian aksesoris yang tepat mampu menciptakan lingkungan artificial yang dapat membuat spesies-spesies tersebut mudah beradaptasi.

    Ada aturan memilih ukuran dan bentuk akuarium air laut. Semakin kecil ukuran akuarium maka akan semakin kecil volume air laut yang tertampung. Semakin sedikit volume air akuarium maka akan semakin sulit mempertahankan kualitas air untuk mendukung lingkungan penghuni akuarium.


    Semakin banyak penghuni akuarium yang dipelihara dalam akuarium berukuran kecil maka semakin banyak masalah yang muncul. Oleh karena itu, hindari penumpukan spesies (overcrowded) yang dapat berakibat melemahnya daya dukung ekosistem akuarium air laut.
    Bagi akuaris pemula, sangat disarankan untuk memulainya dengan akuarium ukuran besar bervolume minimal 200-400 liter air. Pertimbangan bahwa akuaris pemula harus memulai dengan sesuatu yang kecil tidak berlaku untuk hobi ini. Apalagi mengingat ada kecenderungan akuaris pemula akan memenuhi akuarium kecilnya dengan segala macam spesies yang menarik perhatiannya.

    Bentuk akuarium beragam. Untuk akuarium air laut, pilihlah bentuk persegi panjang. Bentuk persegi panjang lebih baik dibanding bujur sangkar. Pasalnya, pencahayaan lampu TL akan maksimal menembus hingga ke dasar akuarium. Jangan lupa pertimbangkan ukuran lampu TL berdasarkan ukuran panjang akuarium. Cahaya sangat penting agar mudah menjangkau seluruh sudut akuarium.
    Akuarium dapat ditopang dengan lemari khusus yang berfungsi menyembunyikan berbagai aksesoris pendukung. Hindari penggunaan bingkai akuarium dari bahan besi karena mudah menimbulkan korosi atau karatan.



    Read More.. Read More..

    Sunday, June 14, 2009

    Setting Aquarium Laut


    Pada umumnya, untuk memulai memelihara ikan laut, kita perlu mensetting aquarium laut kita agar sesuai dengan habitat yang sesungguhnya bagi ikan seperti habitat di laut itu sendiri. Minimal mendekati keadaan air laut yang sebenarnya. Oleh karena itu pada saat setting aquarium, coral, sponge dan tanaman-tanaman laut lainnya bisa langsung dimasukkan pada waktu pertama kali mengisi air.

    Sedangkan untuk memasukkan ikan memerlukan waktu sekitar 2 minggu setelah setting agar tercipta habitat yang menyerupai habitat bagi ikan sehingga ikan dapat tahan lama hidup.

    Biasanya aquaris pemula tidak sabar untuk segera mengisi aquarium dengan berbagai jenis ikan yang sangat menarik, namun karena ikan-ikan tersebut stress dengan lingkungan barunya maka ikan-ikan tersebut akan segera mati dan habitat yang kita inginkan tidak tercipta malah akan menjadi rusak.

    Namun, saya mempunyai trik dan tips yang bisa dipakai agar ikan-ikan yang kita inginkan bisa dimasukkan ke dalam aquarium hanya sehari setelah setting.

    Pada kesempatan berikutnya akan saya bagikan trik dan tips tersebut.

    Read More.. Read More..

    Tuesday, March 24, 2009

    About Marine Fish


    Saltwater Aquarium Marine Fish
    There are almost 20,000 species of marine fish in the world, but only a small minority is of any interest to the aquarist. Of these, most come from the Pacific and Indian oceans, although a few are native to Australia and the tropical Atlantic ocean.
    Marine fish are usually collected in their natural environment and rarely reproduce in captivity. They find it more difficult to acclimatize than freshwater fish, particularly as regards feeding: some refuse to eat artificial food, and others have very special dietary requirements.
    The smallest marine fish require a minimum water volume of 150-200 liters. Medium-sized species (around 20 cm) must he kept in tanks of 300 liters, or at least 400 liters if they are active. It is advisable to obtain juvenile (or sub-adult) specimens, as they are generally easier to acclimatize and feed.

    Cohabitation of Marine Fish
    Bearing in mind their behavior (aggression, need for territory, group life), not all marine fish can live together in the same aquarium, and any mistakes in this respect may prove tragic for your residents. The table below therefore indicates how to fill a marine tank, on the basis of the characteristic traits of each species.

    Marine Fish For Beginners
    The term beginners refers here not only to newcomers to fishkeeping, whose first tank will be a marine one, but also to aquarists who have already had experience with freshwater tanks. Beginners are recommended some species of clownfish (Amphiprion darkii and A. sebae) and blue damsels, all of which belong to the Pomacentrid family. Also suitable are the smaller Labrids and the Blennies (family Blenniidae). The more experienced can try, in addition to these species, other clownfish and damsels, as well as some more regal species: queen angelfish (Holacanthus ciliaris, Pomacanthidae), auriga and raccoon butterfly fish (Chaetodon auriga and C lunula, Chaetodontidae), clown and hippo tangs (Acanthurus lineatus and Paracanthurus hepatus, Acanthuridae).

    For The Experience, More Delicated Marine Fish
    Once an aquarist is familiar with the problems of saltwater aquariums and how to deal with them, he or she can investigate other, more delicate species: annularis angelfish (Pomacanthus annularis), some dwarf angelfish such as Centropyge acanthops (yellow and blue angelfish), all from the Pomacanthid family, the Naso and Zebrasoma genera (Acanthuridae), yellow boxfish (Ostracion cubicus, Ostraciontidae), foxface fish (Lo vulpinus, Siganidae).
    On the other hand, some species can be recommended only to the most experienced hobbyists: the Pakistani butterfly (Chaetodon collare), the copperband butterfly (Chelmon rostratus), the yellow longnose butterfly (Forcipiger flavissimus), all from the Chaetodontid family. Also considered delicate are the Acanthuridae, Balistids and Pomacanthidae not mentioned above, and the Zanclidae.
    Read More.. Read More..

    Monday, March 23, 2009

    Beralih Dari Ikan Air Tawar Ke Ikan Air Laut

    Fish Lover, anda tertarik dengan keindahan yang dihadirkan kehidupan ikan air laut dibanding dengan ikan air tawar?
    Sering kita mendengar bahwa memelihara ikan air laut sangat repot dan lebih susah dibanding memelihara ikan air tawar. Pandangan tersebut tidaklah benar, mungkin benar bagi mereka yang mengerti dan kurang melakukan persiapan yang benar.
    Bila pemahaman dan persiapan mengenai memelihara ikan air laut sudah cukup, maka semuanya akan terasa mudah dan sangat mengasikan.
    Sebagai contoh, tahukan anda bahwa air tawar lebih mudah kotor dan berlumut dibanding air laut?Air dalam aquarium air laut akan selalu terlihat bening walaupun tidak pernah kita ganti, hanya kaca-kacanya saja yang akan terdapat lumut akibat dari cahaya lampu yang kita pakai.

    Beberapa langkah awal yang perlu dilakukan sebelum anda beralih hobby dari ikan air tawar ke ikan air laut :
    1. Konsultasikan terlebih dahulu dengan akuaris berpengalaman yang mau memberikan berbagai informasi, tips, dan problem yang mungkin ditemui pada saat memulai.
    2. Carilah referensi sebanyak mungkin dari buku, majalah maupun situs internet seperti ini.
    3. Pertimbangkan kemampuan finansial sebelum memutuskan bentuk dan isi aquarium. Apakah hanya memelihara ikan saja, koral saja atau keduanya. Apakah ikan yang harganya lebih murah atau yang lebih mahal. Tanyakan pula jenis-jenis ikan yang bisa bergabung dalam satu aquarium karena tidak semua jenis ikan laut dapat disatukan dalam satu aquarium, dalam laut terdapat ikan predator yang bisa memangsa jenis ikan yang lebih lemah.
    4. Pertimbangkan lokasi tempat aquarium karena berkaitan dengan suhu air dalam aquarium. Namun hal ini dapat diatasi dengan pemakaian pendingin suhu air (chiller) yang harganya relatif mahal.
    5. Salah satu kunci sukses memelihara ikan air laut adalah ukuran dan bentuk aquarium, hal ini tidak terlalu dipentingkan pada pemeliharaan ikan air tawar. Ukuran aquarium ikan air laut harus memenuhi ukuran minimum yang bisa digunakan, ini berkaitan dengan volume air laut yang dibutuhkan agar bakteri penyakit tidak mudah menjangkiti ikan.
    Read More.. Read More..

    Bijak Dan Benar Dalam Hobby Ikan

    Fish Lover, hobby memelihara ikan hias baik itu ikan air tawar terlebih ikan air laut bukan hanya sekedar keputusan emosional sesaat begitu melihat kelucuan dan keindahannya. Karena hobby ini bukanlah seperti saat kita memelihara kucing, anjing, burung dan peliharaan lainnya.
    Ikan hias rentan terhadap ekosistem aquarium tempatnya untuk hidup, terlebih ikan hias air laut. Bila ekosistem yang tercipta di dalam aquarium tidak cukup baik, ikan-ikan tersebut akan mudah terkena penyakit atau stress dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk ikan tersebut mati.
    Tanyakan pada diri sendiri, apakah hobby ini sudah tepat?Apakah hobby ini hanya sekedar menjadi penikmat keindahannya?Ataukah cukup memiliki apresiasi terhadap kehidupan yang dipelihara?
    Bila sudah bisa bertanggung jawab terhadap hati nurani, dapatkan pengetahuan yang cukup dari orang-orang yang berpengalaman bukan dari orang-orang yang hanya ingin mencari keuntungan dari hobby kita ini dan kemudian lakukan persiapan yang matang.
    Niscaya, keindahan kehidupan ikan-ikan hias akan dapat kita nikmati di rumah kita sendiri.
    Selamat mencoba!
    Read More.. Read More..