Monday, July 27, 2009

Trik Mendamaikan Ikan Baru Dengan Penghuni Lama

Kadang walaupun kita telah melakukan aklimatisasi/penyesuaian yang cukup bagi ikan baru sebelum dimasukkan ke dalam akuarium, ikan-ikan penghuni lama masih saja mengejar-ngejar penghuni baru tanpa henti. Hal ini akan membuat ikan baru akan bertambah stress karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi. Hal ini sering terjadi apabila spesies baru yang kita beli sama jenis dengan spesies yang sudah ada di akuarium seperti spesies clownfish misalnya antara maroon clownfish (balong) dengan giro pasir.

Untuk menghindari keadaan demikian, ada satu trik yang bisa digunakan agar ikan baru yang kita beli bisa ‘berdamai’ dengan ikan penghuni lama.
Caranya adalah :

  • Lakukan aklimatisasi/penyesuaian spesies baru terhadap suhu air di akuarium seperti biasanya
  • Siapkan suatu wadah seperti pemisah ikan yang warnanya transparan seperti yang banyak dijual di toko-toko peralatan akuarium

  • Ikat wadah tersebut agar tidak terbawa kesana kemari oleh arus yang ada di dalam akuarium
  • Lepaskan spesies ikan baru ke dalam wadah transparan tersebut
  • Biarkan selama beberapa minggu atau bahkan selama berbulan-bulan tergantung keadaan, hal ini bisa dilihat dari kelakuan penghuni lama apakah masih berusaha mendekati spesies baru dan seperti ingin menyerangnya
  • Beri pakan ikan penghuni baru pada saat memberikan pakan pada penghuni di akuarium, sehingga antara penghuni baru dan lama terjalin suatu keadaan yang sama
  • Lepaskan spesies baru dari wadah transparan ke dalam akuarium bila telah dianggap ‘berdamai’, hal ini bisa dilihat dari penghuni lama yang awal mulanya seperti ingin menyerang telah acuh tak acuh terhadap spesies baru yang berada di wadah tersebut
  • Biarkan wadah transparan di tempat semula sampai Anda benar-benar yakin ikan telah ‘berdamai’
  • Usahakan agar wadah transparan tersebut diletakkan miring (bukan menghadap keatas seperti pada waktu spesies baru masih di dalam wadah). Hal ini berfungsi apabila penghuni lama masih berusaha menyerang ikan baru, maka ikan baru akan melindungi dirinya dengan masuk kembali kedalam wadah, dan biasanya penghuni lama tidak akan berani menyerang sampai mendekati wadah transparan tersebut sehingga ikan baru akan aman selama berada di dalam wadah tersebut.

Read More.. Read More..

Friday, July 24, 2009

AKLIMATISASI SPESIES BARU

Salah satu faktor penyebab kematian spesies yang baru dimasukkan ke dalam akuarium adalah tidak dilakukan aklimatisasi/penyesuaian terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa spesies yang dibeli sudah stres sejak dipindahkan dari akuarium penjual dan selama di kantong plastik untuk perjalanan menuju rumah. Keadaan akan semakin parah bila spesies tersebut langsung dimasukkan ke akuarium segera setelah tiba dirumah.

Pernapasan spesies selama di dalam kantong plastik akan meningkatkan kadar karbondioksida sehingga pH air dalam kantong drop dengan signifikan. Pada saat yang sama, kadar amoniak juga akan naik. Meskipun demikian, spesies-spesies tersebut akan tetap bertahan hidup asalkan tidak terlalu lama berada dalam kondisi buruk.

Saat akan dimasukkan ke akuarium, spesies yang baru akan mengalami shock kembali saat mendapatkan kadar pH air yang lebih tinggi di akuarium. Oleh karena itu, perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu agar perubahan kondisi air tersebut tidak berdampak buruk. Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan :

  1. Redupkan lampu diruangan saat membuka kantong plastik berisi spesieskarena cahaya terang secara tiba-tiba akan membuat spesies terutama ikan menjadi stress
  2. Padamkan lampu akuarium
  3. Apungkan kantong plastik berisi spesies di sump atau di akuarium selama 10-15 menit tanpa membukanya. Tujuannya untuk menyamakan suhu air di dalam kantong plastik dengan suhu air akuarium
  4. Tambahkan air akuarium ke dalam kantong setinggi 2-3 cm setiap 5-10 menit selama 20-30 menit sampai kantong penuh
  5. Lepaskan spesies baru ke akuarium dengan menggunakan jaring kecil, jangan dengan tangan. Perlu diingat, air di dalam kantong tidak boleh ikut dimasukkan ke akuarium
  6. Lampu akuarium dibiarkan padam selama beberapa jam agar ikan baru tidak stress akibat diserang oleh penghuni lama. Berikan waktu bagi ikan baru untuk beradaptasi dan mempelajari lingkungan barunya tanpa dikejar-kejar oleh penghuni lama
  7. Beberapa jenis koral akan mengeluarkan lendir selama transportasi. Sebelum dimasukkan ke akuarium, pegang kerangkanya dan guncang-guncang sampai semua lendir dan kotoran terlepas.

    Read More.. Read More..

    Thursday, July 23, 2009

    Tips Memilih Dan Membeli Spesies

    Memilih dan membeli ikan hias, koral dan invertebrata sering dianggap sepele. Padahal sesungguhnya salah satu factor utama agar spesies yang dibeli mampun bertahan hidup di akuarium tergantung pada cara memilih spesies yang tepat dan sehat sebelum dibawa pulang ke rumah.

    Spesies ikan hias yang tampak stress di akuarium penjual perlu dihindari. Perhatikan juga apakah ikan hias terjangkit penyakit seperti whitespot atau tubuh terdapat luka. Atau perhatikan apakah ikan tersebut tampak lesu yang menandakan kurang sehat atau sangat lincah. Selain itu, juga perlu ditanyakan lamanya ikan tersebut berada di akuarium penjual. Hal ini perlu dilakukan karena sebagian nelayan ikan hias menggunakan racun untuk menangkapnya di laut bebas. Racun tersebut memang tidak langsung membunuh ikan-ikan hingga sampai di tangan penjual. Namun bagaimanapun ikan-ikan tangkapan dengan racun akan menjadi tidak sehat dan kemungkinan tidak akan berumur panjang. Bila ikan pilihan sudah disiapkan, sebaiknya Anda meminta penjualnya untuk mengisinya dalam kantong plastik yang diberi oksigen baru sebelum dibawa pulang.


    Khusus koral, Anda perlu mengamati kecerahan warna atau sudah mulai kehilangan zooxanthellae. Kebanyakan spesies koral LPS (Large Polyps Schleractinia) seperti karang daging dan kolang-kaling rentan terluka atau cacaat bila tubuhnya (bukan kerangkanya) disentuh langsung. Oleh karena itu, diingatkan kepada penjual untuk berhati-hati saat koral yang sudah dipilih akan dipindahakan ke dalam kantong plastic agar tidak melukainya apalagi bila koral diambil dengan penjepit. Lebih baik memilih koral yang telah mengembang di akuarium penjual daripada yang masih kuncup karena koral tersebut berarti mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga bila di letakkan di akuarium kita nanti akan lebih cepat mengembang.

    Beberapa koral tertentu seperti spesies sponge, akar bahar (gorgonian), dan kima (tridacna clams) tidak akan bertahan hidup bila berada terlalu lama di luar air. Lebih dari 30 detik saja akan berdampak buruk bagi koral. Oleh karena itu, pastikan bahwa koral yang dipilih segera dimasukkan ke dalam kantong plastic setelah diangkat dari akuarium penjual.

    Read More.. Read More..

    Tuesday, July 21, 2009

    Memilih Dan Merawat Karang Hidup

    Karang hidup mengandung berbagai jenis kehidupan di dalamnya seperti sponge dan cacing kipas kecil. Oleh karena itu, karang hidup perlu dicermati pada saat pemilihan, pengangkutan, perlakuan setiba di rumah dan perawatan di akuarium.

    Saat dibeli, karang hidup dipilih yang masih penuh dengan coralline algae yang warnyanya cerah. Idealnya, karang hidup bercela banyak atau berpori-pori. Bentuk dan besarnya dapat disesuaikan dengan ukuran akuarium.

    Saat diangkut, karang hidup harus tetap terendam air laut tetapi tentunya tidak bisa dibawa dengan kantong plastic. Ini disebabkan terdapat bagian karang yang tajam sehingga dapat membuat kantong bocor. Cara lain membawa karang hidup adalah memakai Styrofoam atau wadah plastic tertutup seperti ember yang sebelumnya sudah diisi air laut. Air laut tidak perlu penuh, cukup karang hidup sudah terendam seluruhnya.

    Bila terpaksa membawa tanpa terendam air laut, maka gunakan kertas koran yang sudah dibasahi air laut untuk membungkus karang hidup tersebut, dan segeralah pulang kerumah agar karang hidup tidak terlalu lama tanpa terendam air karena sebagian organisme yang hidup di karang tersebut akan mati dan nantinya akan mengurangi kualitas air di akuarium bila karang tersebut dimasukkan ke dalam akuarium.

    Amati dengan cermat kehadiran hama aiptasia anemones. Hama yang dikenal sebagai glass anemone tersebut memiliki tentakel beracun yang sanggup membunuh koral dan kima. Bentuknya seperti anemone, tetapi berukuran kecil dan berkembang biak dengan sangat cepat.

    Bagi kebanyakan akuaris pemula, karang-karang hidup di akuarium cepat atau lambat akan tertutupi oleh ganggang hijau dan coklat kemerahan. Hal ini pertanda bahwa kualitas air akuarium buruk atau terdapat penumpukan kotoran ikan dan sisa-sisa pakan diatas karang. Bila hal tersebut benar-benar terjadi, karang-karang hidup perlu dibersihkan dengan sikat halus seperti sikat gigi hingga microalgae tampak bersih. Cara ini dilakukan saat dilakukan penggantian air agar microalgae yang terlepas dapat langsung disedot keluar. Celah-celah karang hidup juga perlu dibersihkan dengan cara disedot saat penggantian air.

    Read More.. Read More..

    Sunday, July 19, 2009

    Tema Akuarium


    Setelah semua kebutuhan dasar sebuah akuarium air laut terpenuhi, langkah yang perlu diperhatikan para akuaris pemula adalah menentukan jenis ikan, koral dan invertebrata yang tepat. Penentuan jenis ikan, koral dan invertebrata harus sesuai dengan asas kesesuaian (compatibility).

    Akuarium air laut tidak boleh asal diisi dengan segala spesies yang tersedia di pasaran. Pasalnya, tidak semua spesies berasal dari habitat serupa, bahkan meskipun berasal dari habitat yang sama, tetap saja masing-masing spesies diambil dari kedalaman berbeda sehingga dibutuhkan lokasi berbeda di akuarium. Selain itu, tidak semua spesies ikan hias, koral dan invertebrata cocok digabungkan dalam sebuah akuarium karena ada yang bersifat predator. Misalnya, semua spesies kepe-kepe dan sebagian angel umumnya sebagai predator bagi koral ataupun spesies kerapu sebagai pemangsa ikan-ikan ukuran kecil.


    Sejumlah spesies ikan hias pun tidak boleh sembarangan digabungkan meskipun berasal dari spesies yang sama karena memiliki perilaku mempertahankan daerah kekuasaan. Misalnya spesies bi-color, royal false gramma atau dottyback akan bertarung sampai mati demi mempertahankan wilayahnya. Sementara balong (maroon clownfish) akan saling menyerang demi anemon. Perlu diingat bahwa ekosistem baru yang disediakan bagi spesies-spesies tersebut merupakan miniatur, bukan di habitat aslinya di laut luas.

    Beberapa spesies ikan pun tidak dapat digabungkan dengan koral karena di habitat alaminya koral-koral tertentu merupakan sumber pakan, misalnya spesies trigger dan kepe-kepe. Dapat dibayangkan, satu saja jenis ikan atau invertebrata predator kotal yang terdapat di dalam akuarium akan membuat stress kehidupan di akuarium. Untuk menangkap ikan predator di dalam akuarium yang penuh karang dan koral bukan pekerjaan mudah.

    Kemudian, sebagian spesies koral diketahui memiliki tentakel beracun bagi koral lain sehingga tidak boleh asal ditumpuk berdesakan. Oleh karena itu, penyusunan dan penempatan koral di akuarium perlu penanganan khusus. Perlu diingat, tidak semua spesies (ikan, koral dan invertebrata) yang dijual dipasaran mampu bertahan hidup pada kondisi artificial di akuarium, meskipun dengan kualitas air yang baik dan ditangani oleh akuaris berpengalaman. Misalnya anemon piring (fungia) sudah dikenal sebagai spesies yang tidak mampu bertahan lama di akuarium, sedangkan acropora dan goniopora termasuk jenis yang sulit dirawat.

    Oleh karena itu, para akuaris pemula perlu terlebih dahulu mempelajari kesesuaian berbagai spesies ikan hias, koral dan invertebrata sebelum memutuskan untuk membelinya. Akuaris pemula perlu menggali informasi sebanyak mungkin dari pemilik toko akuarium dan belajar dari akuaris yang sudah berpengalaman. Kemauan untuk bertanya dan berkonsultasi dengan akuaris berpengalaman mutlak menjadi suatu kebutuhan.

    Dikalangan akuaris air laut dikenal istilah community tank atau theme tank, yaitu akuarium yang diperuntukkan bagi spesies yang berasal dari habitat yang sama, membutuhkan perlakuan yang sama dan kualitas air yang sama. Akuarium tematik ini memudahkan pemeliharaan sekaligus mempertahankan keberlangsungan hidup spesies selama mungkin.

    Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, selain menghemat pengeluaran biaya yang akan terbuang sia-sia, kita juga ikut melestarikan alam laut kita dengan tidak memelihara spesies-spesies ikan, koral dan invertebrata yang tidak mungkin bisa hidup dalam sebuah miniatur akuarium laut yang luasnya sangat terbatas.

    Read More.. Read More..

    Friday, July 17, 2009

    Simulasi Arus Dan Ombak

    Bila memandang permukaan laut, yang pertama kali terlihat adalah deburan ombak. Namun sebetulnya dibawah permukaan air laut tersebut terdapat arus horizontal (current) dan arus vertikal (tides). Arus tersebut tidak konstan, tetapi terus berubah sepanjang waktu. Bahkan sesekali terjadi pertemuan arus (turbulance). Kondisi penuh dinamika ini terutama terjadi pada laut dangkal, habitat ikan hias, koral atau terumbu karang.

    Bila Anda pernah menonton tayangan tentang dunia koral atau pernah menyelam untuk menikmati keindahan koral, pastilah Anda akan tahu bahwa koral-koral tersebut seperti menari mengikuti irama arus dan ombak. Sesekali muncul arus dari kedalaman yang membawa naik berbagai nutrisi dan mineral sebagai sumber pakan.


    Bagi akuaris air laut, kondisi seperti ini sedapat mungkin disimulasikan karena merupakan faktor penting bagi kehidupan koral. Selain untuk membawa pakan (plankton) dan mineral, keberadaan arus menjadi sangat penting bagi koral dan ikan. Koral dan ikan akan memanfaatkan arus untuk membersihkan tubuh dari kotoran. Arus pun bermanfaat pada pertukaran gas oksigen dan karbondioksida.

    Kurangnya arus di akuarium akan berdampak negatif pada kualitas air. Bila di dalam akuarium terdapat area yang sangat rendah dan tidak terkena arus, akan tercipta daerah deadspot. Diarea deadspot tersebut sangat minim kadar oksigennya. Area deadspot akan memicu berkembangnya populasi bakteri anaerob secara tidak seimbang. Selain itu, deadspot akan menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) yang beracun bagi kehidupan di akuarium. Area deadspot umumnya berada di balik karang di belakang akuarium dan di celah karang yang tidak terkena arus.

    Arus yang tidak sesuai akan membuat beberapa jenis koral seperti batu hio, babut, polip matahari, pagoda akan sulit berukuran maksimal. Oleh karena itu, simulasi arus dan ombak di akuarium air laut merupakan faktor penting.

    Kini, sudah ada alat berupa wafemaker dan surge device yang menciptakan arus dan ombak buatan. Namun, alat tersebut sangat langka di Indonesia. Kalaupun ada harganya masih mahal. Oleh karena itu, kita bisa mempergunakan powerhead (pompa) berkapasitas kecil antara 1.000 - 15.000 liter/jam. Powerhead di tempatkan sedemikian rupa agar arus yang tercipta menjangkau hingga ke sudut-sudut akuarium. Bila belum cukup, tambahkan lagi sebuah powerhead yang di pasang di sudut lain hingga dapat menimbulkan efek arus tabrakan. Agar simulasi arus dinamis, bisa menggunakan timer yang banyak tersedia di toko-toko alat listrik. Timer diatur untuk mematihidupkan powerhead secara acak, sesekali on atau off secara bersamaan.

    Perlu diperhatikan, beberapa jenis koral seperti spesies jamur tidak menyukai arus yang terlalu kencang. Untuk itu, penyusunan koral di akuarium tidak boleh asal-asalan. Jangan sampai koral yang tidak menyukai arus tersebut malahan terkena arus berlebihan, begitu pula sebaliknya.
    Read More.. Read More..

    Tuesday, July 14, 2009

    Mengontrol Suhu Air Dengan Chiller

    Suhu air akuarium merupakan salah satu faktor penting yang sering disepelekan para akuaris air laut pemula. Suhu air akuarium perlu dijaga agar tidak melewati ambang batas minimum dan maksimum. Untuk mengetahui suhu air tersebut, gunakan thermometer khusus akuarium. Suhu yang terlalu tinggi ataupun rendah akan membuat penghuni akuarium stress dan menyebabkan kematian. Bukan itu saja, suhu air yang terlalu tinggi akan mempengaruhi komposisi kimiawi air.



    Sebagian besar spesies ikan hias, koral dan invertebrata yang diperdagangkan di pasaran Indonesia berasal dari habitat laut yang lebih dangkal sehingga suhu air yang nyaman bagi penghuni akuarium pada umumnya berkisar antara 25 – 30 derajat celcius, khususnya ikan. Namun biasanya jenis koral dan invertebrata memerlukan suhu air yang lebih rendah. Secara umum, suhu yang bisa diakomodasi oleh ikan, koral dan invertebrata adalah berkisar antara 25 – 28 derajat celcius.

    Cara mudah untuk mengontrol dan mempertahankan suhu air di akuarium adalah dengan menggunakan mesin pendingin air atau Chiller.
    Namun harga Chiller di pasaran memang masih relatif mahal untuk digunakan, dan listrik yang dipakai pun cukup besar seperti mesin pendingin ruangan yang biasa kita gunakan (AC).
    Dengan menggunakan Chiller, koral dan tanaman hias air laut akan mekar secara maksimal karena mendapatkan suhu air yang tepat sehingga akuarium akan terlihat lebih indah.

    Read More.. Read More..

    Monday, July 13, 2009

    Cara Mengatasi Penguapan Air Laut Di Akuarium

    Biasanya dalam hitungan hari air laut yang berada di dalam akuarium sering berkurang dikarenakan penguapan. Berkurangnya air laut tersebut pada setiap akuarium tidak sama, hal ini tergantung kepada volume air yang ada pada akuarium masing-masing, penggunaan lampu yang bervariasi ataupun letak akuarium apakah di tempat yang mudah membuat terjadi penguapan atau tidak.
    Untuk menambahkan air agar volume air kembali normal, sebaiknya jangan ditambahkan dengan air laut kembali. Hal ini dikarenakan air laut di akuarium yang menguap akan membuat kadar garam di dalam air akuarium meningkat akibat penguapan tersebut. Sehingga untuk menetralkan kembali kadar garam di akuarium, air yang ditambahkan cukup berupa air tawar yang telah diendapkan minimal satu malam ataupun yang lebih baik menggunakan air isi ulang yang harganya cukup murah. Dengan air minum isi ulang, minimal air tersebut sudah melalui proses penyulingan sehingga air dapat langsung dimasukkan ke dalam akuarium.

    Proses ini sama seperti ekosistem yang terjadi di laut asli. Air laut di lautan bebas terjadi penguapan dikarenakan sinar matahari, kemudian dinetralkan oleh air hujan yang turun sehingga kadar garam di laut kembali normal dalam ambang batas yang sesuai dengan ekosistem di laut.

    Read More.. Read More..

    Penggantian Air Rutin

    Meskipun sudah menggunakan filter mekanis, filter biologi dan protein skimmer, air tetap perlu diganti secara berkala. Air baru yang dipakai umumnya berupa air laut alami atau bisa air laut buatan. Mengganti air dengan air laut buatan belum banyak dilakukan di Indonesia. Ini disebabkan air laut buatan memerlukan garam khusus yang harganya mahal dan belum banyak beredar di Indonesia. Air laut yang bersih bisa dibeli dengan mudah dan murah.

    Pemakaian air laut buatan lebih repot karena sumber air yang dipakai perlu diolah (dipurifikasi/disuling) dengan reverseosmosi/deonization (RO/DI). Pengolahan ini untuk menghilangkan kandungan klorin, fosfat, silika dan bahan berbahaya lainnya.

    Penggantian air tidak boleh dilakukan dengan menguras habis isi akuarium karena bukan saja akan merusak siklus yang sudah berjalan, tetapi juga membuat penghuni akuarium stess dan mati. Oleh karena itu, penggantian air cukup sebagian saja. Pembuangan sebagian air lama berfungsi menghilangkan sampah organik serta menambah plankton dan mineral yang berguna menjadi pakan bagi kehidupan di ekosistem.


    Tidak ada patokan seberapa sering air perlu diganti, begitu pula dengan volume air. Namun semua tergantung seberapa cepat kualitas air di akuarium menurun dan seberapa rendah kualitas air tersebut. Keputusan mengganti jumlah volume dan waktu penggantian juga perlu mempertimbangkan kualitas airnya dengan mengukur berbagai parameter air. Bila kualitas air sudah buruk yang ditandai tingginya bioload atau akibat kerja filter biologi tidak maksimal, sangat disarankan setengah volume air akuarium diganti. Bila hanya penggantian rutin, sebaiknya air yang diganti sebanyak 5 - 10% per minggu atau 20-25% per dua minggu.

    Satu hal yang perlu dicatat ialah penggantian air harus dilakukan secara rutin dan teratur agar ikan dan koral tidak stress akibat pola penggantian yang tidak teratur dan berubah-ubah. Namun ada yang sering disepelekan oleh para akuaris mengenai kondisi air laut baru yang dijadikan pengganti. Belum tentu air yang dibeli benar-benar berkualitas baik dan sesuai parameter asli air laut alami. Bahkan bisa saja air pengganti lebih jelek kualitasnya. Oleh karena itu tidak salahnya untuk terlebih dahulu menguji parameter kualitas air laut yang dibeli meskipun merepotkan. Atau membeli air laut baru di tempat-tempat yang bisa dipercaya kualitasnya karena mereka telah mengujinya.
    Read More.. Read More..

    Friday, July 10, 2009

    Fungsi Protein Skimmer

    Meskipun wet-dry-trickle filter sudah bekerja dengan efektif, belum berarti masalah sudah selesai. Produk akhir dari wet-dry-trickle filter yaitu nitrat, masih menyimpan masalah terutama saat kadarnya melebihi ambang batas (antara 5,0-20 mg/ltr) akibat spesies yang overcrowded atau pemberian pakan berlebihan.
    Beruntunglah para pakar sudah menemukan metode baru yang dapat membuang kadar nitrat secara signifikan melalui protein skimmer atau foam fractionation. Selain membuang nitrat dari air, protein skimmer yang beroperasi 24 jam tersebut pun mampu membuang berbagai sampah organic, termasuk kandungan fosfat dan silica yang kerap memicu tumbuhnya brown diatom algae.

    Dipasaran sudah banyak ditawarkan jenis protein skimmer. Ada yang menggunakan powerhead dengan system venture, ada pula yang hanya menggunakan air pump (pompa udara). Model yang berbeda akan berpengaruh pada efektivitas.



    Prinsip kerja protein skimmer adalah mengalirkan udara ke air sehingga menimbulkan gelembung-gelembung udara berukuran kecil atau halus. Gelembung-gelembung halus yang jumlahnya sangat banyak akan mengikat sampah organic yang kemudian membawanya ke permukaan tabung pembuangan dalam bentuk busa kering.

    Bagaimana caranya menentukan bahwa protein skimmer yang digunakan berfungsi dengan baik? Protein skimmer yang efektif akan mampu menciptakan gelembung udara sebanyak mungkin dengan ukuran sangat kecil. Semakin lama gelembung udara tersebut kontak dengan air maka semakin banyak sampah organic yang diikat, lalu dibuang. Oleh karena itu, semakin besar ukuran protein skimmer maka kemampuan kerjanya akan lebih efektif.

    Memastikan bahwa protein skimmer yang dipilih sudah efektif dan pengoperasiannya benar dapat dengan memperhatikan busa yang diproduksi. Busa tersebut harus kering (bukan berupa air) dan terus menumpuk di mulut tabung pembuangan sampai busa kering berikutnya mendorongnya masuk ke tabung pembuangan. Lama kelamaan busa tersebut akan mencair dengan warna hijau kecoklatan atau coklat kehitaman dan berbau khas. Bila limbah yang dihasilkan cukup banyak, tabung pembuangan akan penuh dalam waktu kurang dari seminggu (untuk akuarium berukuran 300-400 liter dengan jumlah spesies padat). Namun untuk akuarium yang baru di set-up, pada minggu pertama tentu belum banyak limbah karena siklus nitrogen belum berjalan.

    Read More.. Read More..

    Wednesday, July 8, 2009

    Filtrasi Biologi


    Untuk mempertahankan keseimbangan siklus nitrogen sekaligus mempertahankan kualitas air, dibutuhkan suatu sistem filtrasi biologi. Filterisasi secara biologi adalah merekayasa keadaan hidupberbagai mikroorganisme yang diperlukan

    Ada banyak sistem filtrasi biologi yang umum dikenal. Pada dekade tahun 60-an saat hobi ini mulai berkembang di negara barat, diandalkan metode undergravel filter. Namun, pda perkembangan selanjutnya metode konvensional tersebut tidak efektif lagi dalam menjalankan siklus nitrogen dan mempertahankan kualitas air. Bahkan metode ini hanya merepotkan hobiis karena perlu sering dibersihkan dari sisa-sisa metabolisme yang menumpuk di dasar akuarium.

    Seiring makin menjamurnya akuaris berpengalaman dengan berbagai penelitian mereka, berkembang pula berbagai metode dan sistem filtrasi seperti wet-dry trickle filter method, berlin method, algae scrubber method, jaubert method, live sand bed method hingga mud/eco method. Semua metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.


    Wet dry trickle filter umumnya disembunyikan di dalam kabinet bawah akuarium. Ada juga model akuarium yang filternya ditempatkan menyatu di samping atau di belakan akuarium sehingga tidak perlu lagi ruangan kabinet dibawahnya. Filter ini terdiri i tiga bagian yang dilewati air. Air yang mengalir dari akuarium dengan mengandalkan gaya gravitasi akan melewati saringan pertama filter mekanis atau pre-filter berupa lapisan busa. Selanjutnya air mengucur kebawah melewati tumpukan bioball sebagai tempat hidup bakteri aerob. Untuk itu sebagian bioball tidak terendam dalam air sebagai lapisan kedua. Tujuannya agar air yang melewatinya selalu kaya oksigen. Sebagian bioball lagi atau lapisan ketiga terendam sepenuhnya dalam air. Bioball dapat diganti dengan serpihan karang mati meskipun tidak seefektif bioball. Ini disebabkan bioball dirancang memiliki permukaan yang banyak sebagai tempat hidup bakteri aerob.

    Setelah melalui lapisan ketiga, air sudah tidak mengandung amoniak yang terurai menjadi nitrat. Air kemudian dipompa ke atas menggunakan powerhead sehingga masuk kembali ke akuarium. Perlu dicatat bahwa filter biologi akan bekerja efektif bila volume air yang melewatinya cukup. Idealnya, untuk setiap jamnya volume air yang tersaring melalui wet-dry trickle filter minimal dua kali volume air akuarium. Oleh karena itu, powerhead harus disesuaikan dengan kapasitas akuarium. Semakin besar akuarium atau volume air maka semakin besar kapasitas pompa atau powerhead yang dipakai.

    Read More.. Read More..

    Monday, July 6, 2009

    Karang dan Pasir Hidup


    Untuk mempercepat berlangsungnya siklus nitrogen, ada kiat yang bisa ditempuh. Saat pertama kali men-set-up akuarium baru, disarankan untuk menggunakan pasir hidup (live sand) sebagai dasar akuarium dan karang hidup (live rock) sebagai karang dekorasi. Pasir dan karang disebut hidup karena di dalamnya terdapat kehidupan mikroorganisme yang berperan pada berbagai tahap siklus nitrogen. Tidak seperti karang mati putih polos yang umum dipakai dalam mendekorasi akuarium display di toko-toko ikan hias dan koral. Karang hidup dipenuhi coraline algae atau ganggang koral yang berwarna-warni seperti ungu, merah jambu dan hijau.

    Pada lingkungan laut asli, pasir dan karang hidup berfungsi sebagai filter alami. Oleh karena itu, salah satu metode filtrasi cukup mengandalkan pasir dan karang hidup sebagai media untuk menyaring sekaligus mempertahankan kualitas air.

    Satu atau dua ekor ikan yang relatif tahan terhadap kualitas air buruk, seperti green chromis atau blue damsel dapat dimasukkan ke dalam akuarium baru. Begitu pula sebagian pasir dan serpihan karang dari dasar akuarium yang sudah stabil dimasukkan ke akuarium yang baru selesai diset. Pasir dan serpihan karang yang stabil sudah kaya mikroorganisme yang akan mempercepat siklus nitrogen di akuarium baru.
    Read More.. Read More..

    Friday, July 3, 2009

    Bersatunya Ikan Air Laut Dan Tawar



    ASAM DI GUNUNG, GARAM DI LAUT BERTEMUNYA DI DALAM BELANGA. UNGKAPAN ITU PAS BENAR UNTUK MENUNJUK TEMUAN SPEKTAKULER YANG DIPAMERKAN PADA AJANG AQUARAMA 2009. IKAN BADUT ALIAS CLOWN FISH AMPHIPRION PERCULA YANG BIASA HIDUP DI LAUT KEDALAMAN 8 - 10 M BERENANG BERDAMPINGAN DENGAN MASKOKI CARRASIUS AURATUS DARI KOLAM AIR TAWAR DALAM SATU AKUARIUM.

    'Wah ini kabar baik, pasti banyak orang yang suka,' kata Prof Dr Gumilar Rusliwa Soemantri, rektor Universitas Indonesia. Sebagai pencinta koi Gumilar mafhum ikan hias tawar dan laut berbeda habitat. Jika bisa hidup berdampingan jelas luar biasa. Bima Saksono, eksportir ikan hias di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pun tak pernah mendengar keduanya bisa hidup bersama di satu akuarium.

    'Keajaiban' itu dihadirkan di Aquarama 2009 oleh produsen pakan dan aksesori akuarium GEX Corporation asal Osaka, Jepang. Di stannya, GEX memajang kotak kaca berukuran 100 cm x 80 cm x 60 cm yang dihuni aneka ikan hias laut dan tawar. Segerombol ikan badut dan seekor kuda laut Hippocampus sp berseliweran di antara tiga ryukin dan seekor ranchu yang asyik berenang ria di antara koral artifisial bercorak merah dan tanaman air. Sementara ikan hias tawar lain: gurami hias, platy, dan beberapa ekor guppy hilir mudik di dinding belakang akuarium.

    Pemandangan kontras seperti ini tak pelak membuat puluhan pengunjung dan peserta pameran Aquarama 2009 dari berbagai negara silih berganti melongok isi akuarium itu. Singkat kata tak ada ucapan lain yang keluar dari mulut mereka selain kalimat 'luar biasa'. Menurut Mulyadi, ahli kimpoi suntik ikan hias di Bandung, Jawa Barat, yang ditampilkan stan GEX itu memang anomali. Wajar stan itu menjadi bintang di Aquarama 2009.

    Terobosan ini selangkah lebih maju dibandingkan inovasi serupa pada Aquarama 2007. Ketika itu stan H2O Aquarium dari Singapura juga menampilkan ikan hias laut dan tawar di satu akuarium. Namun, sesungguhnya mereka tetap hidup di dua akuarium berbeda. Pada akuarium laut berukuran 3 m x 1 m itu dibenamkan 3 buah akuarium air tawar. Sepintas ikan laut dan tawar seperti berenang bersama saat dilihat dari bagian depan akuarium.

    Dokumen 1971
    [IMG]
    http://www.trubus-online.co.id/mod/p...media/2224.jpg[/IMG]

    Menurut Yuichiro Miyauchi, staf GEX, kunci teknologi penggabungan dua jenis ikan hias berbeda habitat itu adalah marine treatment yang dikembangkan oleh Yamamoto Toshimasa, dosen dari Okayama University of Science Specialized Training College. Produk itu berupa bubuk putih yang bisa meningkatkan kadar elektrolit pada air tawar. Elektrolit merupakan zat yang mudah terurai dalam bentuk ion-ion. Salah satu ikatan elektrolit yang terkenal adalah NaCl alias garam.

    Miyauchi tak bersedia mengungkapkan duduk perkara bagaimana senyawa dalam bubuk tadi bekerja. Namun, saat Trubus mencoba mencicipi sedikit air akuarium yang diberi oksigen terlarut melalui aerator, terasa agak asin alias payau. Data lain yang bisa terungkap adalah pengaruh pemberian marine treatment yang tertuang di selembar kertas dan ditempel di sisi akuarium. Di sana tertulis: bubuk putih, 2 unsur mineral dalam satu boks, pH 7,2 - 7,6, salinitas 7 - 9 ppm, suhu 25?C, dan tidak beracun.

    Yang tampak kasat mata, akuarium itu memakai chiller - pendingin--yang suhunya disetel 25?C dan filter biologis. Tak tampak protein skimmer, pengurai amoniak pada kondisi air asin. Sebab itu Takehito Morimoto, staf lain, menyebutkan air perlu diganti setiap 2 minggu. Kesan misterius itu belakangan menjadi gunjingan ramai di berbagai blog pengunjung pasca - Aquarama 2009. Contoh Benny Ng asal Singapura. Di blognya Benny memajang foto akuarium itu dan menyisip komentar, 'Bagaimana caranya?'.

    Penelusuran Trubus menemukan fakta mengejutkan. Penyatuan ikan hias laut dan tawar dalam satu akuarium bukan hal baru. Setidaknya itu tampak dari berkas dokumen hak paten yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan nomor paten 3683855 pada 1971 atas nama Tronic Product Inc asal negara bagian New Jersey. Di sana diuraikan langkah-langkah pembuatan larutan yang mampu membuat ikan berbeda habitat itu nyaman hidup bersama.

    Larutan itu adalah senyawa organik yang terdiri dari bahan etilen glikol dan propilen glikol. Etilen glikol dikenal sebagai cairan tak berwarna, tak berbau, dan berasa manis serta larut dalam air. Senyawa itu merupakan bahan baku utama industri tekstil, cat, kanvas rem, sampai bahan antibeku. Propilen adalah hasil samping dari pembuatan sabun dan lilin. Ia muncul sebagai reaksi dengan asam lemak dan minyak.

    Larutan itu yang dicampurkan dengan campuran air laut dan tawar pada salinitas 12 - 14 ppm. Untuk mendapatkan derajat keasaman sekitar 7,2 - 7,6 seperti terjadi pada akuarium GEX, larutan diberi tambahan 0,75 - 1,5 g garam silikat metal. Silikat metal terdiri atas unsur sodium dan kalium.

    Selanjutnya apa yang terjadi di tubuh ikan? Sejatinya cairan dalam tubuh ikan tawar dan laut memiliki salinitas hampir sama meski konsentrasi garam di habitat masing-masing berbeda. Salinitas cairan dalam tubuh ikan laut sekitar 2/5 ppm dari salinitas laut sebesar 33 ppm; ikan tawar 1/5. Agar keseimbangan tekanan terjaga, mekanisme osmosis bekerja di tubuh ikan. Intinya ikan akan mengatur keluar-masuk air di tubuh. Dengan alasan itu pula larutan yang disebut di atas memiliki konsentrasi garam sesuai kisaran salinitas cairan tubuh kedua ikan berbeda habitat, antara 1/5 - 2/5 ppm.

    Adaptasi
    Menurut Prof Dr Suharsono ikan tawar dan laut dapat dipelihara pada satu tempat. 'Pada ikan laut ini bisa dilakukan pada ikanikan estuarin,' kata kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Ancol, Jakarta Utara. Estuarin merujuk pada ikan-ikan yang hidup di muara sungai. Di sana salinitas lebih kecil sekitar 12 ppm. Di laut salinitas mencapai 33 ppm.

    Sebab itu ikan muara seperti bandeng Chanos chanos, ketang-ketang Ogcocephalus radiatus, atau salmon tak sulit hidup meski mereka harus berada di lingkungan dengan salinitas berbeda. 'Sistem osmoregulasi mereka sudah berkembang baik. Jadi kalau disatukan dalam kondisi payau bersama ikan tawar, ikan estuarin lebih tahan, bahkan tanpa proses aklimatisasi,' kata doktor bidang ekologi koral dari Departemen Biologi Universitas Newcastle Upon Tyne di Inggris itu.

    Namun, pada kasus clown fish dan kuda laut yang dipelihara bersama-sama ikan hias tawar seperti disaksikan di stan GEX kondisinya agak berbeda. Berbeda karena ikan badut dan kuda laut itu murni hidup di laut, sekitar terumbu karang. Tanpa proses adaptasi sulit rasanya bagi kedua ikan itu hidup di kondisi payau. 'Perubahan salinitas sampai di bawah 26 ppm dapat membuat ikan laut sejati mati,' kata Suharsono. Satu-satunya cara menggunakan ikan laut sejati hasil budidaya. Mereka lebih adaptif karena telah dikondisikan pada salinitas lebih rendah.

    Hal senada disampaikan oleh Dra Kadek Ari yang berhasil membiakkan clown fish dan kuda laut di luar habitat asli pada 2008. 'Yang bisa hidup pasti ikan hias laut hasil budidaya,' kata peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung itu. Foto di stan GEX yang dikirim padanya mengungkapkan hal ini. 'Dari warna tubuh clown fish, jelas ini hasil budidaya. Warna ikan lebih muda. Ciri lain ikan terlihat akur bergerombol. Di alam tidak seperti itu,' katanya.

    Malah Kadek seperti mengenali ikan badut di akuarium GEX itu. Maklum setelah sukses menangkarkan, Kadek sering mengirimkan ikan badut dan kuda laut ke Jepang. Boleh jadi itu alasan mengapa hanya ikan hias laut clown fish dan kuda laut yang ditampilkan di akuarium GEX. Kedua ikan hias laut itu sudah berhasil dibudidayakan.

    Pada ikan hias tawar tak perlu memakai hasil penangkaran. 'Ikan tawar sebetulnya malah nyaman berada di kondisi payau karena salinitas tubuhnya mendekati salinitas lingkungan,' ujar Melta Rini Fahmi SPi, MSi, peneliti Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar di Depok, Jawa Barat. Artinya ikan hias tawar hanya cukup diaklimatisasi agar bisa hidup di kondisi sedikit payau.

    Peluang
    Kehadiran teknologi penggabungan ikan hias laut dan tawar itu cukup diminati hobiis. Grigorius Tam dari Yunani, misalnya, berharap dapat membeli produk marine treatment sesudah resmi dilepas di pasaran oleh GEX pada Agustus 2009. Grigorius ingin mencoba sekadar bersenang-senang. 'Saya punya sebuah akuarium laut di rumah,' kata pemilik toko perlengkapan ikan hias di Akrapolis itu.

    Menurut Jemmy Gunawan di sentra ikan hias Jalan Kartini, Jakarta, teknologi ini memang berpeluang besar disukai hobiis. Pemilik gerai KDC itu merujuk saat ia bereksperimen menggabungkan ikan hias laut seperti balong, kepe-kepe, dan giro pasir, bersama tiga maskoki tossa di akuarium berukuran 60 cm x 30 cm x 20 cm pada 2007. Ini untuk pajangan di tokonya. Hasilnya? Gerai milik Jemmy dibanjiri pengunjung. 'Mereka senang melihatnya, tapi begitu tahu harga filter yang dipakai sampai Rp80-juta, mereka mundur,' katanya.

    Syarat harga terjangkau diungkapkan oleh Gumilar. 'Hasil teknologi baru itu akan cepat diterima hobiis bila murah dan ramah lingkungan,' ujar Gumilar. Pun Cecep Hidayat dari Firda Aquarium di sentra ikan hias Jalan Sumenep, Jakarta Pusat, 'Kalau harganya murah pasti diminta,' ujarnya. Toh, inovasi yang ditampilkan oleh stan GEX membuka wawasan bahwa tak ada yang tak mungkin dicoba. Melihat maskoki dan ikan badut berenang bersama di satu akuarium sangat menyenangkan. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi T dan Faiz Yajri)

    Sumber :
    http://www.trubus-online.co.id/index.php
    http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=1893

    Read More.. Read More..